Memerdekakan Pikiran dari Kutub Ekstrem


OLEH: ARIEF ADHIKSANA*
Pada tahun ini Indonesia telah memasuki usia kemerdekaannya yang ke-75. Sebuah bangsa besar telah lahir melalui perjuangan yang sangat panjang dan berdara-darah. Bangsa itu bernama Indonesia.
Sebagai generasi yang telah lahir bukan saat bangsa ini berjuang dalam memperoleh kemerdakaannya, maka fokus kita adalah bagaimana mengisi kemerdekaan. Karenanya, pada kesempatan kali ini izinkan saya untuk memaknai kemerdekaan sesuai dengan minat saya akhir-akhir ini: cara berpikir atau mindset.
Beberapa waktu yang lalu kita pernah bersama-sama mendengarkan bagaimana menteri pendidikan menawarkan kepada semua perguruan tinggi tentang konsep merdeka belajar. Nah, saya pun sebagai salah satu insan yang hidup dalam dunia pendidikan tinggi, mencoba menambahkan konsep tersebut dengan imajinasi saya: merdeka dalam berpikir atau kita sebut saja cara berpikir yang merdeka.
Cara berpikir yang merdeka ini dapat dimaknai sebagai upaya untuk mengembalikan posisi akal atau pikiran kepada porsi yang sebenarnya. Karena memang selama ini sepertinya sebagian dari kita miliki kekeliruan dalam proses berpikir. Saya berbicara ini bukan dalam konteks menghakimi cara berpikir orang. Karena setiap orang berhak memiliki preferensi masing-masing. Fokus saya lebih kepada upaya untuk menghindari dari 2 pola yang ekstrem dalam berpikir.
Cara berpikir merdeka ini ingin menghindari terjebaknya kita dalam dua kutub ekstrem. Pertama, paham yang mendewakan akal. Akal adalah segalanya atau segalanya harus masuk akal. Orang yang berada dalam kutub ini akan sangat kritis. Bahkan terlalu kritis untuk hal-hal yang sebenarnya bukan porsinya untuk dikritisi. Sebagai contoh, ia mengkritisi dogma dogma dalam agama. Salah satu dari sekian banyak dogma yang menjadi sumber atau bahan kajian yang sering dikritisi oleh para penyuka kutub ini adalah tentang kehidupan setelah mati atau beriman pada hari akhir. Ini sebenarnya domainnya iman alias hati. Karena yang namanya dogma adalah sesuatu yang menjadi domain dari iman atau kepercayaan. Tidak perlu kemudian kita terlalu mengkritisi hal tesebut.
Dampaknya jelas. Kita terjebak pada perdebatan yang tidak produktif bahkan bisa menjadi sumber perpecahan. Bangsa ini sudah mengalami berkali-kali perpecahan karena dipicu sikap kritis yang berlebihan terhadap sesuatu yang bukan domain akal. Kalau saja bukan karena karunia Allah, tentunya bangsa Indonesia telah tercabik-cabik menjadi negara-negara kecil karena cara berpikir seperti ini.
Kedua, cara berpikir yang yang justru merendahkan akal. Cara berpikir yang “melarang” atau menghindari sesuatu untuk dikritisi. Kalau kutub pertama terlalu kritis, maka ini sebaliknya. Terlalu “nrimo” sesuatu yang sebenarnya bisa dikritisi untuk menjadi lebih baik. Seolah-olah sesuatu sudah harga mati yang tidak bisa diotak-atik lagi. Sehingga kita harus siap menerima apa adanya. Apa contohnya? Fanatisme terhadap suatu metode, cara kerja bahkan terhadap kelompok, organisasi atau partai politik. Bisa jadi fanatisme lahir karena salah satunya kegagalan kita menempatkan akal/nalar kita, yang berdampak hilangnya keberanian untuk mencari cara yang lebih baik lagi. Mencari metode yang lebih efesien.
Bukankah kita sering mendengar ungkapan, suatu kegilaan manakala mengharapkan hasil yang berbeda tetapi menggunakan cara yang sama. Pada kutub kedua ini, akal kita menjadi lemah karena dilarang kreatif, dilarang berinovasi, dan dilarang mengkritisi. Kita berhenti untuk bertumbuh.
Jadi cara berpikir merdeka ini bertujuan untuk menghindari kita dari kedua kutub ekstrem ini. Jangan sampai kita justru terjebak dalam salah satunya.
Apa syarat agar kita mampu merdeka dalam berpikir? Syarat yang pertama, kesediaan kita untuk selalu menentang paradigma yang berlaku. Ini syarat pertama yang harus dipenuhi. Agar kemerdekaan dalam berpikir tumbuh, maka kita harus berani untuk melawan paradima yang berlaku. Paradigma ini bukanlah nilai-nilai semua agama. Paradigma ini bermakna cara kita dalam mencapai tujuan-tujuan besar kita. Metode ataupun sarana kita dalam perjalanan menuju kesuksesan. Ingat, ada perbedaan antara jalan sukses dengan cara sukses.
Jalan sukses adalah sebuah visi yang menjadi cita-cita utama kita. Sebuah perjalanan yang akan kita lalui. Sementara cara sukses yakni sarana, metode, cara berpikir bahkan belief yang kita gunakan untuk melalui proses menuju tujuan akhir. Nah, memperbaiki dan menentang cara kita menuju kesuksesan inilah yang saya maksud dengan merdeka dalam berpikir. Hal itu dimulai dengan kesediaan kita untuk selalu melawan “paradigma” yang sudah ada.
Kedua, semangat untuk terus berlajar. Satu-satunya cara menghadapi perubahan adalah dengan meningkatkan daya adaptasi kita. Daya adaptasi akan meningkat manakala kita mau terus belajar. Tidak pernah merasa puas dengan capaian yang ada. Terus mencari pengetahuan yang diperlukan untuk menyempurnakannya. Tidak puas dengan capaian bukan berarti tidak bersyukur. Justru dengan bersyukur itu membuat kita terus menyempurnakan semua usaha kita. Ini konsep yang sebenarnya saling bersinergi. Dengan terus belajar inilah maka kita bisa mengetahui dan mnyempurnakan semua cara kita untuk sukses. Kita pun mampu beadaptasi karena merdeka dalam berpikir.
Ketiga, memiliki mental keberlimpahan. Dengan adanya mental keberlimpahan, maka kita tidak akan sungkan untuk berbagi pengetahuan kepada sesama. Pengetahuan adalah asset. Tetapi dengan membagikan aset tersebut, maka aset itu akan terus berkembang. Itulah kenapa software berbasis open source seperti Android menjadi software system operasi smartphone yang paling populer dibandingkan yang lain. Open source software bermakna bahwa semua pihak boleh mengembangkan sistem operasi tersebut tanpa takut adanya hak paten. Inilah yang menyebabkan Android menjadi kokoh dibandingkan kompetitornya. Belajar dari kesuksesan Android, maka memiliki mental keberlimpahan akan membuat ide dan gagasan itu semakin tumbuh sempurna dari waktu ke waktu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: