Kita jadi mudah curiga, mudah marah, paranoid dan rentan panik massal.
Media sosial yang dahulu sekadar hiburan kini menyerupai “sound horeg” dalam genggaman.
Suara yang berisik, menghantam lebih dari 120 desibel, bisa merusak pendengaran dan kesehatan mental.
Begitu pula informasi yang tak henti masuk.
Berita buruk, spekulasi politik, gosip selebritas, meme sarkas, hingga pernyataan publik yang saling bertolak belakang.
BACA JUGA: Membuat Grup WA RT Tanpa Persetujuan Anggota dan Mengunggah Konten Pribadi
BACA JUGA: Profit adalah Tujuan Suci
Semua itu menciptakan kebisingan sosial.
Kita jadi seperti panci presto, mendidih pelan tapi bisa meledak kapan saja, hanya karena pemicu kecil.
Kerusuhan yang terjadi, bisa jadi bukan semata-mata karena rakyat bodoh, provokator asing, atau aparat yang represif.
Tapi karena sistem sosial kita sudah terlalu bising dan lelah untuk berpikir jernih.
Apalagi ditambah tekanan ekonomi. Harga naik, pajak naik, gaji pejabat ikut naik.
Realita sosial kontras dengan angan gaya hidup mewah yang kerap kita saksikan di layar HP.
Kecemburuan sosial meningkat, semakin menajamkan rasa ketidakadilan.
Apakah ada pihak asing yang memanfaatkan? Bisa jadi.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting, apa yang membuat kita begitu mudah dimanfaatkan?