Tren ISPU Tembus 80, Bupati PPU sebut Kabut Asap Kiriman dari Paser
Kualitas udara di Kabupaten PPU kategori sedang berdasarkan paramater KLH/BPLH.-(Disway Kaltim/ Achmad Syamsir Awal)-
PENAJAM PASER UTARA, NOMORSATUKALTIM - Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menunjukkan tren peningkatan.
Setelah berada di angka 72 pada akhir Agustus lalu, kualitas udara di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) ini kini menembus angka 80, per Kamis 3 September 2026, menempatkannya dalam kategori sedang dengan label biru.
Berdasarkan data parameter kualitas udara terkini dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), lonjakan ISPU di PPU dipicu oleh tingginya partikel debu halus dan asap berukuran 2,5 mikron (PM2,5).
Sementara itu, parameter lain seperti Particulate Matter (PM10) terpantau sedang, Sulfur Dioksida (SO2), dan Karbon Monoksida (CO) masih terpantau dalam kondisi baik.
BACA JUGA: Dikepung Kabut Asap, Kualitas Udara PPU Menyentuh Angka 72, Masuk Kategori Sedang
BACA JUGA: BMKG Sebut Kabut Asap di Balikpapan Dampak dari Karhutla Kalsel
Bupati PPU, Mudyat Noor, mengatakan penurunan kualitas udara ini bukan bersumber dari titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya.
Menurutnya, kesigapan tim pemadam di Benuo Taka dalam menangani kebakaran sangat tinggi, di mana penanganan selalu tuntas kurang dari 24 jam, walaupun dalam sehari terjadi 3 hingga 7 titik kebakaran.
"Kebakaran di Penajam (PPU) penanganannya cepat banget dan tidak pernah berlarut-larut melebihi satu hari. Asap ini merupakan imbas embusan dari wilayah Paser yang kemarin mengalami kebakaran cukup hebat," katanya.
Dampak asap kiriman tersebut bahkan sempat membuat pandangan ke arah Kota Balikpapan dari PPU tertutup kabut tebal pada pagi hari.
BACA JUGA: Hadapi Kemarau, 62 Ribu Air Bersih Didistribusikan untuk 456 KK di Sebakung Jaya
BACA JUGA: BI Sebut Kemarau Picu Inflasi, Pasokan Pangan di Balikpapan dan PPU Ikut Terdampak
Menanggapi kondisi ini, upaya rekayasa cuaca atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) telah dimohonkan dan dilaksanakan oleh BPBD. Namun, kondisi cuaca ekstrem di lapangan menjadi kendala utama persebaran hujan buatan.
"Kemarin (beberapa hari lalu) sudah dilakukan rekayasa cuaca, tetapi karena angin cukup deras, awan hujan bergeser dan justru turun hujan di Kubar (Kutai Barat)," ungkap Mudyat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
