18 Ribu Hotspot Terpantau di Kaltim, Lampaui Catatan September 2015
Kabut asap mewarnai atmosfir sebagian besar wilayah Kalimantan Timur.-(Disway Kaltim/ Chandra)-
BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM – Sebanyak 18.402 titik panas atau hotspot terpantau di Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang Agustus 2026. Jumlah tersebut bahkan telah melampaui catatan hotspot pada September 2015 yang mencapai 18.131 titik.
Tingginya jumlah hotspot menjadi perhatian karena Kaltim masih menghadapi potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Kondisi tersebut diperkuat dengan potensi hujan di sejumlah wilayah yang masih berada dalam kategori sangat rendah.
Kepala BMKG Stasiun Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengatakan hotspot dapat menjadi peringatan dini terhadap potensi terjadinya Karhutla.
Meski demikian, Djoko menegaskan keberadaan hotspot tidak serta-merta menunjukkan telah terjadi kebakaran hutan dan lahan.
BACA JUGA: Disdikbud Samarinda Siapkan Kebijakan Belajar Daring Jika Kabut Asap Memburuk
BACA JUGA: Lahan 4 Hektare di Balikpapan Timur Terbakar, 3 Sapi Nyaris Terpanggang
"Hotspot memang bukan berarti karhutla, tapi itu sebuah potensi terjadinya karhutla," ujar Djoko, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan data BMKG Balikpapan, jumlah hotspot sepanjang Agustus 2026 mencapai 18.402 titik. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah hotspot pada Agustus 2015 yang tercatat sebanyak 9.793 titik.
“Jadi jumlah hotspot pada Agustus 2026 mengalami peningkatan hingga sekitar 100 persen dibandingkan Agustus 2015,” ungkapnya.
Jumlah hotspot pada Agustus 2026 juga telah melampaui catatan September 2015. Pada periode tersebut, BMKG mencatat 18.131 titik panas.
BACA JUGA: Kabut Asap Semakin Parah, Kasus ISPA di Mahulu Capai 653 Orang
BACA JUGA: Dampak Kabut Asap Karhutla, Bupati Kukar Instruksikan Sekolah Terapkan Belajar Daring
Kondisi ini menjadi perhatian karena periode Agustus 2015 juga berlangsung saat fenomena El Nino. Tingginya hotspot pada tahun ini menunjukkan potensi risiko Karhutla masih perlu diwaspadai.
Djoko mengatakan kondisi tersebut masih berpotensi memburuk apabila cuaca tidak segera berubah. Salah satu faktor yang memengaruhi risiko Karhutla adalah curah hujan di Kaltim yang masih rendah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
