Disdag Samarinda Ancam Tindak Pedagang Membandel di Pasar Pagi
Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani saat memimpin sidak pedagang yang meluber ke koridor Pasar Pagi.-(Foto/ Istimewa)-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda menyoroti maraknya pedagang yang berjualan hingga meluber ke tengah koridor Pasar Pagi.
Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani mengatkan fenomena pedagang yang keluar dari lapak resmi dan memilih berjualan di luar disebut menjadi perhatian serius pihaknya.
Disdag Samarinda kini telah menyiapkan langkah penertiban bertahap kepada pedagang yang membandel dan tidak mengindahkan aturan penempatan lapak.
Perempuan yang kerap disapa Yama ini menjelaskan, kondisi itu bermula dari sejumlah pedagang yang sebenarnya telah mendapatkan lapak resmi, namun memilih tidak menempati lokasi yang sudah dibagikan.
BACA JUGA: DPRD: Pasar Pagi Harus Ramai Pedagang, Bukan Pemilik yang Sewakan Lapak
BACA JUGA: Inspektorat Daerah Periksa Dugaan Maladministrasi Pasar Pagi Samarinda
“Awalnya ada pedagang yang sebenarnya sudah dapat lapak, tapi dia tidak mau menempati. Alasannya karena lapak itu ditempati keluarga atau pihak lain, sehingga dia memilih berjualan di luar,” ujar Nurrahmani, Senin 4 Mei 2026.
Menurutnya, keputusan beberapa pedagang tersebut kemudian memicu pedagang lain ikut-ikutan berjualan di area luar lapak hingga akhirnya memenuhi koridor pasar.
“Nah ketika ada yang mulai di luar, itu jadi contoh untuk yang lain. Mereka melihat ada ruang dan merasa bisa ikut berjualan di luar juga,” jelasnya.
Dia mengaku awalnya pihaknya sempat memaklumi kondisi tersebut ketika momentum Ramadan, lantaran aktivitas jual beli meningkat signifikan. Namun, kondisi serupa ternyata masih terjadi setelah bulan puasa berakhir.
BACA JUGA: Disdag Kota Samarinda: Pembagian Lapak Pasar Pagi Berdasarkan Data Administrasi
BACA JUGA: Wali Kota Samarinda Tegaskan Satu SKTUB untuk Satu Lapak Pasar Pagi
Ia menyebut hingga saat ini sejumlah pedagang masih menolak kembali ke lapak dengan alasan lokasi kios atau blok yang ditempati sepi pengunjung, sehingga mereka merasa lebih menguntungkan berjualan di area luar.
“Alasannya tidak laku kalau di dalam. Tapi kami tidak bisa memaklumi kalau sudah punya lapak lalu tidak mau masuk. Sementara yang tertib justru tetap berada di dalam,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
