Bankaltimtara

Sepatu Kekecilan Renggut Nyawa Siswa SMK, Disdikbud Kaltim Minta Sekolah Peka Kondisi Siswa

Sepatu Kekecilan Renggut Nyawa Siswa SMK, Disdikbud Kaltim Minta Sekolah Peka Kondisi Siswa

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Armin .-(Disway Kaltim/ Mayang)-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Seorang siswa kelas XI di SMK Negeri 4 Samarinda meninggal dunia setelah mengalami infeksi pada kaki yang diduga dipicu penggunaan sepatu sekolah yang tidak sesuai ukuran. Korban berasal dari keluarga tidak mampu dan berstatus yatim.

Peristiwa bermula saat korban tetap mengikuti kegiatan belajar menggunakan sepatu yang sudah kekecilan. Kondisi tersebut diduga menyebabkan lecet pada bagian kaki. Keterbatasan ekonomi membuat sepatu lama terus digunakan dalam aktivitas sehari-hari di sekolah.

Luka pada kaki tidak segera mendapat penanganan medis. Dalam beberapa hari, kondisi luka memburuk dan berkembang menjadi infeksi. Korban tetap beraktivitas meski mengalami rasa nyeri. Kondisi fisik korban kemudian dilaporkan terus menurun.

Pada Kamis, 23 April 2026, kondisi korban semakin melemah dan tidak lagi mampu beraktivitas normal. Sehari kemudian, Jumat, 24 April 2026, korban meninggal dunia di rumah. Dugaan sementara, infeksi yang tidak tertangani menjadi penyebab utama.

BACA JUGA: LBH Samarinda Terima 39 Aduan Beasiswa Gratispol, Mahasiswa Keluhkan Dana Telat hingga Pembatalan Sepihak

BACA JUGA: 4.000 Siswa SMA/SMK/MA di Berau Terima Seragam Gratis dari Program Gratispol

Menanggapi kejadian itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur, Armin, menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut. 

“Meninggalnya karena infeksi. Itu mestinya kalau ada masalah seperti sepatu kekecilan, segera disampaikan,” ungkap Armin, dihubungi Minggu, 3 Mei 2026.

Ia menyebut sejumlah skema bantuan pendidikan tersedia untuk mendukung kebutuhan siswa, termasuk perlengkapan sekolah. 

Program tersebut antara lain Program Indonesia Pintar (PIP), Bantuan Operasional Sekolah Nasional (BOSNAS), serta Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA). “Kalau hanya satu dua anak yang kesulitan, mestinya bisa dibantu,” sebutnya.

BACA JUGA: Guru Non-ASN Dilarang Mengajar di Sekolah Negeri Mulai 2027, Bontang Minta Diskresi

BACA JUGA: Kaltim Masih Kekurangan Guru, DPRD Tolak Wacana Hapus Prodi Kependidikan

Armin meminta komunikasi antara siswa, orang tua, dan sekolah berjalan dengan baik agar kebutuhan dasar siswa dapat terpantau. Informasi terkait kesulitan ekonomi atau keterbatasan perlengkapan diharapkan dapat disampaikan sejak awal.

“Saya siap membantu kalau ada yang datang langsung. Bilang saja anaknya tidak punya sepatu atau tidak bisa sekolah. Sayang sekali kalau dibiarkan,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: