Bankaltimtara

Gentle Parenting: Mengasuh Anak Tanpa Marah

Gentle Parenting: Mengasuh Anak Tanpa Marah

Gentle Parenting: Mengasuh Anak Tanpa Marah-(Foto/ Dok. Pribadi)-

Oleh: Nichita Heryananda Putri

SEIRING perkembangan zaman, cara orang tua mengasuh anak mengalami perubahan besar. Jika dulu pola asuh identik dengan disiplin ketat, hukuman, atau bahkan bentakan, kini muncul paradigma baru yang lebih menekankan pada empati, komunikasi, dan penghormatan terhadap perasaan anak. Paradigma itu dikenal dengan sebutan Gentle Parenting.

Fenomena ini makin ramai diperbincangkan di media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube.

Banyak konten kreator parenting yang berbagi kisah tentang bagaimana mereka menghadapi tantrum anak tanpa marah-marah. 

Bagi generasi milenial dan Gen Z, pendekatan ini terasa relevan karena dekat dengan keseharian, tidak menggurui, dan sejalan dengan keinginan membesarkan anak tanpa trauma masa kecil.

Pola asuh bukanlah sesuatu yang statis. Ia selalu bergerak mengikuti perkembangan zaman, nilai budaya, hingga pengetahuan manusia tentang anak. Di Indonesia, generasi sebelumnya lebih akrab dengan pola asuh yang keras. 

Ungkapan seperti “anak harus nurut orang tua”, “anak kecil dilarang membantah”, menjadi cermin betapa dominannya paradigma otoriter dalam pengasuhan.

Pendekatan seperti ini sejalan dengan teori Diana Baumrind (1967), yang membagi pola asuh menjadi tiga kategori utama yaitu otoriter, permisif, dan authoritative. 

Orang tua otoriter menekankan disiplin ketat dan kepatuhan tanpa kompromi. Orang tua permisif, sebaliknya, cenderung longgar dan membiarkan anak mengambil keputusan sendiri tanpa banyak aturan. 

Sedangkan authoritative yang kelak menjadi dasar Gentle Parenting menggabungkan kasih sayang dengan batasan yang jelas.

Di masyarakat tradisional Indonesia, pola otoriter kerap dibenarkan dengan alasan budaya. Anak dianggap “belum tahu apa-apa”, sehingga harus tunduk penuh pada orang dewasa. Namun, ketika arus modernisasi, pendidikan, dan psikologi berkembang, pandangan ini mulai dipertanyakan. 

BACA JUGA: 8 Bulan, 40 Kasus Kekerasan Terjadi di Paser, Mayoritas Menimpa Anak

Elly Risman, seorang psikolog dan konselor keluarga Indonesia, sering menegaskan bahwa pola asuh keras bisa menimbulkan luka batin dan membuat anak tumbuh dengan masalah kepercayaan diri. Paradigma lama yang penuh ancaman perlahan digeser oleh cara pandang baru yang lebih menekankan pada komunikasi dua arah.

Gentle Parenting pun muncul sebagai representasi dari paradigma baru itu. Ia berbeda dari pola asuh otoriter yang menekankan kontrol penuh, juga tidak sama dengan permisif yang serba membebaskan. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: