Bankaltimtara

Gentle Parenting: Mengasuh Anak Tanpa Marah

Gentle Parenting: Mengasuh Anak Tanpa Marah

Gentle Parenting: Mengasuh Anak Tanpa Marah-(Foto/ Dok. Pribadi)-

Di Indonesia, sejumlah pakar parenting juga mendukung pendekatan serupa. Najeela Shihab, pendiri Sekolah.mu, sering menekankan bahwa pengasuhan modern perlu menggabungkan kasih sayang dengan keterampilan komunikasi. 

Sementara itu, buku Parenting ala Generasi Milenial (Wikan, 2020) menyoroti pentingnya orang tua muda memahami perkembangan psikologi anak agar tidak terjebak pada pola asuh otoriter yang diwariskan secara turun-temurun.

Ilustrasi Kasus Nyata dalam Gentle Parenting

Untuk memahami Gentle Parenting secara lebih konkret, coba kita lihat beberapa contoh kasus sehari-hari yang sangat dekat dengan kehidupan orang tua saat ini. Sebagai contoh, seorang ibu muda yang baru pulang kerja. Di rumah, anaknya yang berusia lima tahun sedang asyik menonton YouTube di tablet. Ketika sang ibu meminta anak berhenti, anak menolak dan mulai tantrum berteriak, menangis, bahkan membanting bantal ke lantai.

Dalam pola asuh otoriter, orang tua mungkin akan langsung memarahi atau merebut paksa gadget itu sambil berkata, “Diam! Kalau nggak nurut, Buna hukum!” Cara ini mungkin efektif sesaat, tapi sering meninggalkan luka pada anak dan membuat mereka semakin keras kepala.

BACA JUGA: Lonjakan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak, Kementerian PPPA Soroti 5 Faktor Pemicu

Dalam pola asuh permisif, gaya pengasuhan di mana orang tua sangat responsif dan penuh kasih sayang terhadap anak, tetapi kurang menuntut, menetapkan sedikit aturan, orang tua bisa saja membiarkan anak terus menonton dengan alasan tidak ingin ribut. Tapi dampaknya, anak tidak belajar tentang batasan dan disiplin diri.

Gentle Parenting menawarkan pendekatan berbeda. Orang tua pertama-tama berusaha meregulasi emosi diri sendiri. Setelah itu, sang ibu bisa duduk di samping anak dan berkata dengan suara lembut, “Lagi seru ya tontonannya, Bang. Tapi ini udah jam 9 malam, waktunya kita siap-siap tidur. Buna kasih waktu 5 menit lagi atau selesaikan sekarang terus kita baca buku bareng sebelum tidur?”

Dengan cara ini, anak merasa didengar dan punya kendali terbatas. Anak mungkin tetap kecewa, tapi ia belajar bahwa perasaannya dihargai, dan pada saat yang sama ia juga harus taat pada aturan.

Contoh lain bisa kita lihat pada situasi di tempat umum. Seorang anak berusia tiga tahun menangis keras di pusat perbelanjaan karena ingin dibelikan mainan. Orang tua yang panik sering kali memilih dua jalan yakni marah besar di depan umum, atau menyerah dan langsung membelikan mainan itu.

Gentle Parenting mendorong orang tua untuk tetap tenang dan fokus pada emosi anak. Orang tua bisa menenangkan sambil berkata, “Abang mau mainan itu ya? Boleh, tapi gak sekarang ya. Kan Abang gak butuh itu, udah ada mainan yang dibelikan Babah kemarin. Nanti lagi ya, mungkin pas ulang tahun Abang bulan depan,”

Respons seperti ini tidak hanya mengurangi risiko trauma pada anak, tetapi juga mengajarkan keterampilan penting menunda keinginan dan mengelola kekecewaan.

Kedua kasus ini memperlihatkan bahwa Gentle Parenting memang membutuhkan kesabaran ekstra. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia bukan sekadar strategi cepat untuk membuat anak patuh, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun anak yang lebih percaya diri, empatik, dan tangguh secara emosional. 

Kesimpulan

Gentle Parenting, meski terdengar cukup mudah namun bukan berarti tidak memiliki tantangan. Banyak orang tua Milenial maupun Gen Z yang merasa sulit menerapkan proses pengasuhan tersebut secara konsisten. Tidak jarang, orangtua yang bekerja dari pagi hingga sore merasa lelah setelah kembali ke rumah, kemudian dihadapkan dengan tingkah laku anak-anak yang mencari perhatian orang tuanya dengan perilaku seperti rewel, menangis, hingga tantrum. Orangtua secara reflek kembali membentak, mengancam hingga memberi hukuman fisik seperti mencubit ataupun hukuman fisik lainnya.

Karena itu, menerapkan Gentle Parenting lebih kepada kesadaran diri. Komunikasi dua arah dan belajar mengelola emosi bukan hanya urusan anak namun juga pelajaran yang harus dilakukan oleh orang tua. Sama-sama belajar meminta maaf saat salah, terus saling terbuka agar anak dan orang tua sama-sama memiliki perasaan membutuhkan satu-sama lain dengan pengelolaan emosi yang baik.

BACA JUGA: Tiga Sekolah di Samarinda Diusulkan Raih Predikat Sekolah Ramah Anak

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: