Bankaltimtara

Berbagi Fasilitas Gedung dengan SD dan SMPN, SMAN 8 Penajam Berharap Miliki Gedung Sendiri

Berbagi Fasilitas Gedung dengan SD dan SMPN, SMAN 8 Penajam Berharap Miliki Gedung Sendiri

Kondisi gedung SMAN 8 Penajam yang saat ini berbagi ruang dengan SD dan SMP.-Awal/Nomorsatukaltim-

PENAJAM PASER UTARA, NOMORSATUKALTIM - SMA Negeri 8 Penajam yang awalnya dirancang dengan konsep sekolah terpadu berstandar internasional ini, kini tengah memperjuangkan kemandirian fasilitas gedung setelah bertahun-tahun berbagi lahan dengan SD 038 dan SMP Negeri 21.

Humas SMAN 8, Lia Kumalasari menceritakan, bahwa SMA ini lahir di masa kepemimpinan Bupati PPU, Yusran Aspar pada 2008. Awalnya, sekolah ini diproyeksikan sebagai sekolah unggulan atau Bilingual Plus.

"Dulu awalnya mau dibangun seperti sekolah internasional. Guru-guru angkatan pertama, termasuk saya melalui tes bahasa Inggris dan pedagogi yang ketat," kenang Lina, ditemui di SMAN 8, Senin 9 Februari 2026.

Namun, perubahan kepemimpinan daerah sempat membawa perubahan kebijakan yang mengembalikan fungsi awal lahan untuk SD 038 dan SMP 21.

BACA JUGA: Miris! Siswa SD dan SMP di PPU Belajar di Perpustakaan Bersekat, Gedung Masih Gabung dengan SMA

BACA JUGA: Kartu Penajam Cerdas Mulai Disalurkan, 6.367 Pelajar di PPU Terima Uang Rp600 Ribu

Hal ini membuat posisi SMAN 8 sempat berada dalam ketidakpastian administratif, meski kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan segala keterbatasan.

Saat ini, SMAN 8 memiliki 12 rombongan belajar (rombel) dengan total siswa mencapai lebih dari 300 orang.

Minimnya fasilitas membuat pihak sekolah harus memutar otak. Ruang pertemuan pun terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang kelas.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada siswa SMA, tetapi juga mengganggu kenyamanan siswa SD dan SMP yang berada di lingkungan yang sama.

BACA JUGA: Disdikpora PPU Buka Peluang KPC untuk Madrasah, Tunggu Integrasi Data Kemenag

BACA JUGA: Realisasi Gratispol Pendidikan Masih Jauh dari Pagu Rp750 Miliar, Baru di Angka Rp150 Miliar

"Kasihan juga melihat SD dan SMP, mereka kekurangan ruangan. Sempat ada rencana anak SD memakai perpustakaan, tapi tentu tidak kondusif," tambah dia yang juga mengajar Bahasa Indonesia.

Harapan baru muncul setelah adanya rencana pembangunan gedung mandiri. Lokasi yang direncanakan berada di Perusahaan Umum Daerah (Perusda) Benuo Taka dengan luas lahan mencapai kurang lebih 3 hektare.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: