Bankaltimtara

Gentle Parenting: Mengasuh Anak Tanpa Marah

Gentle Parenting: Mengasuh Anak Tanpa Marah

Gentle Parenting: Mengasuh Anak Tanpa Marah-(Foto/ Dok. Pribadi)-

Gentle Parenting menempatkan anak sebagai manusia utuh yang memiliki perasaan, logika, dan kebutuhan. Orang tua tetap memegang kendali, tetapi kendali itu dibalut dengan rasa hormat dan empati.

Gentle Parenting sebagai Pergeseran Paradigma Ilmu dan Pola Asuh

Dalam filsafat ilmu, Thomas Kuhn (1962) memperkenalkan konsep paradigm. Kerangka berpikir yang digunakan ilmuwan untuk memahami realitas. Menurut Kuhn, ilmu pengetahuan tidak berkembang secara linear, melainkan melalui serangkaian “revolusi paradigma”. 

Artinya, ketika paradigma lama tidak lagi mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan baru, maka paradigma baru muncul untuk menggantikannya.

Jika konsep ini merujuk ke ranah parenting, Gentle Parenting dapat dilihat sebagai sebuah revolusi paradigma dalam ilmu pengasuhan. Pola asuh otoriter yang dominan di masa lalu memandang anak sebagai objek yang harus dikontrol penuh oleh orang tua. Namun seiring perkembangan psikologi, neuroscience, hingga ilmu pendidikan, paradigma lama itu mulai runtuh. 

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa kekerasan verbal maupun fisik justru merusak perkembangan anak, bukan memperkuatnya.

Gentle Parenting hadir sebagai paradigma baru yang lebih sesuai dengan data dan realitas sosial. Sejalan dengan perkembangan psikologi humanistik yang digagas oleh tokoh-tokoh seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow. Anak dipandang sebagai individu yang memiliki potensi, kebutuhan, dan martabat yang harus dihormati. 

Tugas orang tua bukanlah sekadar mengendalikan, tetapi mendampingi agar potensi anak berkembang optimal.

Seperti halnya ilmu pengetahuan lain, parenting tidak bisa dilepaskan dari perkembangan sosial, budaya, dan teknologi. Maka, mengadopsi Gentle Parenting bukan hanya mengikuti tren, tetapi juga mengakui bahwa ilmu pengasuhan selalu berkembang dan saat ini, paradigma barunya adalah pengasuhan yang lembut dan penuh 

BACA JUGA: 127 Kasus Kekerasan Anak Teridentifikasi di Balikpapan, 66 di Antaranya Kekerasan Seksual

Prinsip, Dasar Ilmiah, dan Neuroscience Gentle Parenting

Sarah Ockwell-Smith (2016) dalam The Gentle Parenting Book menekankan empat pilar utama Gentle Parenting yaitu empati, rasa hormat, pemahaman, dan batasan. 

Artinya, orang tua tidak lagi menempatkan diri sebagai penguasa, melainkan sebagai pendamping yang membimbing anak dengan penuh kasih. Ketika anak marah atau tantrum, Gentle Parenting mengajarkan orang tua untuk melihat dari sudut pandang anak: “Apa yang ia rasakan? Mengapa ia bereaksi seperti itu?” Bukan semata-mata bertanya, “Bagaimana cara membuat anak berhenti menangis sekarang juga?”

Dari sisi ilmiah, Gentle Parenting mendapat dukungan kuat dari riset neuroscience. Daniel Siegel dan Tina Payne Bryson (2011) dalam The Whole-Brain Child menjelaskan bahwa otak anak, terutama bagian prefrontal cortex yang mengatur logika dan kontrol diri, belum berkembang sempurna hingga usia pertengahan remaja. 

Itu artinya, anak kecil memang secara biologis belum mampu mengatur emosi mereka sendiri. Tugas orang tua adalah membantu mengarahkan, bukan menghukum.

Lebih jauh, penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pola asuh yang penuh kehangatan dan konsistensi membantu anak mengembangkan regulasi emosi, kemampuan sosial, dan kesehatan mental yang lebih baik. 

Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh ancaman atau hukuman keras cenderung mengalami kecemasan, depresi, atau kesulitan membangun hubungan sehat di masa dewasa (Goleman, 1995).

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: