Pelangi Literasi di Desa Pela

Pelangi Literasi di Desa Pela

OLEH: ERWAN RIYADI*

Aku sudah beberapa kali berkunjung ke desa ini. Sebuah desa kecil yang hanya dihuni sekitar 500-an orang saja. Dengan hamparan wilayah seluas 2.724 Ha. Tidaklah sangat luas jika dibandingkan desa-desa lain di Kukar.

Barangkali karena lokasinya yang tepat bersinggungan dengan Danau Semayang, inilah yang membuat Pela memiliki keunikan sendiri. Danau Semayang dengan bentang luas sekitar 13.000 Ha dan menjadi danau terluas di Kukar secara sosial, ekonomi dan budaya telah memberikan warna bagi masyarakat yang berdiam di sekitarnya. Tak terkecuali bagi Desa Pela yang persis berada di muara Danau Semayang.

Sebutan sebagai desa nelayan telah melekat kuat sejak lama. Tentu saja sesuai dengan potensi alamnya. Kalau belakangan desa ini juga mulai dikenal sebagai desa wisata, ini tentu juga berkenaan dengan potensi wilayahnya. Ada danau besar dengan segenap keunggulannya. Ada ikan pesut. Hewan mamalia langka yang kerap terlihat melintas di perairan desa ini. Ada kultur setempat yang juga punya daya tarik dari sisi pariwisata. Pemerintah Desa dan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) telah semakin intens untuk mengangkat semua celah potensi wisatanya

Lalu, apakah desa ini bisa berkembang menjadi Kampung Literasi? Mari kita teruskan ulasannya. Setelah direncanakan untuk dilaksanakan awal tahun kemarin, Pelangi Literasi harus ditunda mengingat berjangkitnya wabah virus corona di seluruh belahan dunia.

Memasuki bulan Juli, meski pandemi masih belum usai, kita memutuskan untuk melaksanakan kegiatan ini. Tentu dengan mematuhi semua protokol penanggulangan COVID-19. Sesuai anjuran pemerintah tentang new normal. Dan akhirnya terlaksanalah semua agenda yang telah disiapkan itu.

Apa yang dimaksud literasi? Mengapa perlu ada gerakan literasi? Sebagaimana yang sering aku sampaikan, literasi itu pada awalnya dikaitkan hanya dengan aktivitas membaca dan menulis. Literasi kemudian terus berkembang. Akhirnya lebih dipahami sebagai seperangkat kemampuan. Berawal dari kemampuan membaca dan menulis. Diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan hidup. Kemudian ditujukan untuk membuat kehidupan yang lebih baik.

Kemampuan membaca dan menulis tetaplah menjadi dasar utama dari literasi. Meskipun literasi berkembang dan terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.

Lalu kita mengenal enam literasi dasar: literasi bahasa (baca dan tulis), literasi sains (pengetahuan dan teknologi), literasi numerik (angka), literasi finansial (keuangan), literasi budaya dan kewarganegaraan, serta literasi digital (media)

Di era sekarang, enam kemampuan dasar itulah yang harus kita kuasai. Agar bisa mengarungi kehidupan yang semakin kompleks dan menantang. Enam kompetensi dasar itulah yang akan menentukan keberadaan dan posisi kita di tengah pergaulan antar manusia. Baik secara lokal, nasional, maupun global.

Kemudian ada pula empat tingkatan penguasaan literasi: mengetahui, memahami, menyadari, dan melakukan (action).

GERAKAN LITERASI

Lantas, mengapa perlu ada gerakan literasi? Bukankah pendidikan dan sistemnya telah mengakomodir semua kepentingan di atas?

Begini. Dari sudut pandang literasi, pendidikan dan pelatihan adalah cara atau metode untuk menghantarkan semua kompetensi dasar di atas. Pendidikan adalah proses belajar dan mengajar. Hasilnya adalah literasi. Dalam konteks “seperangkat kemampuan”. Wujud nyata dari literasi di tengah masyarakat adalah apa yang kita kenal sebagai budaya. Budaya itulah yang kemudian membentuk siapa kita.

Nah, tentu ada kaitan sangat erat antara literasi, pendidikan, dan budaya. Literasi akan lebih berperan sebagai “api” yang menghidupkan dan menggelorakan proses pendidikan dan upaya untuk terus memajukan kebudayaan. Dari alur pikir sederhana tersebut, maka literasi itu akan lebih strategis apabila disematkan kata “gerakan” di depannya.

Kita perlu gerakan literasi agar sistem pendidikan semakin baik dan mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Secara bersamaan kita perlu gerakan literasi agar mampu membangun budaya yang lebih maju. Pada ujungnya juga berkaitan dengan upaya untuk menciptakan SDM yang unggul.

Gerakan literasi pada akhirnya akan sampai pada satu kepentingan besar: terwujudnya SDM yang terbaik. Masyarakat bahkan negara sangat berkepentingan dengan urusan ini. Jadi, gerakan literasi itu memang perlu dan penting.

LITERASI DI DESA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: