Otak, kata dia, tidak menghapus pengalaman emosional, melainkan menyimpannya dalam bentuk memori.
BACA JUGA: Duduk Santai 15 Menit di Alam Setiap Hari Ternyata Bisa Tekan Risiko Depresi
BACA JUGA: Psikolog Klinis Sebut Kecanduan Gawai Bukan Salah Anak, Melainkan Sistem yang Gagal
Kenangan bersama mantan meninggalkan jalur saraf, jejak keterikatan, serta refleks emosional tertentu. Walau perasaan secara sadar mungkin sudah memudar, memori implisit tetap bertahan dan bisa muncul kembali dalam kondisi tertentu.
“Inilah mengapa familiaritas dengan mantan bisa tetap terasa emosional, pola lama bisa muncul kembali saat stres, dan perbandingan bawah sadar bisa terjadi,” ujar Pandey.
Karena itu, ia menegaskan bahwa move on yang sesungguhnya bukanlah soal menghindari masa lalu, melainkan memprosesnya dengan tuntas.
Lalu, bagaimana membedakan kepercayaan yang sehat dengan paparan emosional yang berlebihan?
BACA JUGA: Fenomena Rojali dan Rohana di Mal Kian Merajalela
BACA JUGA: Arcadia Clash: Ajang Nostalgia Tunjukkan Barang-Barang Vintage hingga Pengenalan Budaya Pop
Pandey menyebut bahwa kepercayaan yang sehat dibangun melalui keterbukaan tanpa rahasia, batasan yang jelas dan disepakati bersama, loyalitas emosional, serta rasa saling memprioritaskan.
“Jika interaksi dengan mantan menimbulkan kebingungan, perbandingan, rahasia, atau perpindahan emosi, itu sudah melewati batas. Kepercayaan bukan berarti keterbukaan tanpa batas, tapi menciptakan keamanan emosional sambil menghormati realitas psikologis,” Pandey menjelaskan.
Pandangan ini menjadi pengingat bahwa dalam hubungan asmara, rasa aman secara emosional sering kali lebih penting daripada pembuktian bahwa seseorang telah sepenuhnya move on dari masa lalu.