Bankaltimtara

Psikolog Klinis Sebut Kecanduan Gawai Bukan Salah Anak, Melainkan Sistem yang Gagal

Psikolog Klinis Sebut Kecanduan Gawai Bukan Salah Anak, Melainkan Sistem yang Gagal

Ilustrasi seorang anak asyik menatap layar ponsel -istimewa-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM Anak-anak di Indonesia kini tumbuh di tengah gelombang teknologi yang semakin deras

Namun, di balik akses yang begitu luas terhadap gawai dan internet, tersembunyi kekosongan sistem yang mengkhawatirkan.

Tidak ada infrastruktur perlindungan yang kuat, tidak ada kurikulum yang memadai, dan tidak semua keluarga memahami bagaimana mendampingi anak di dunia digital.

Psikolog Klinis RSUD AW Sjahranie Samarinda, Dr. Wahyu Nhira Utami, menilai bahwa anak-anak masa kini menghadapi tantangan yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya.

Mereka hidup di era gawai, di mana akses terhadap konten tanpa batas tersedia dalam genggaman.

Namun sayangnya, kemampuan mereka untuk memfilter informasi dan mengelola emosi belum berkembang sepadan.

"Anak-anak belum punya kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Fungsi kognitif mereka masih dalam tahap tumbuh,” jelasnya.

"Tapi ironisnya, kita malah membiarkan mereka berselancar sendiri di dunia yang bahkan orang dewasa pun belum tentu bisa kendalikan." tambah Nhira.

Dalam dunia neurologi, bagian otak yang disebut prefrontal cortex memegang peran pentig dalam kemampuan mengambil keputusan, menunda kepuasan, hingga mempertimbangkan konsekuensi.

Bagian ini baru berkembang sempurna saat seseorang mencapai usia pertengahan 20-an. Itu berarti, remaja maupun anak-anak masih belum mampu memproses konsekuensi jangka panjang dengan baik.

"Kalau anak ngambek lalu marah di media sosial, itu karena mereka memang belum bisa mikir akibat jangka panjangnya," kata dia.

Namun sayangnya, lingkungan justru sering kali menanggapi dengan reaksi keras atau menyalahkan anak. Bukan refleksi, apalagi edukasi.

Padahal, dalam situasi ini, anak-anak justru membutuhkan pendampingan, bukan hukuman.

Data dari GoodStats 2024, menunjukkan bahwa anak di Indonesia terekspos teknologi sejak usia yang sangat dini.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait