Bankaltimtara

Ancaman Baru Kebebasan Pers di Indonesia: Sensor dan Swasensor

Ancaman Baru Kebebasan Pers di Indonesia: Sensor dan Swasensor

Peluncuran Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) di Jakarta.-Yayasan Tifa-

BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM – Ancaman terhadap jurnalis di Indonesia bergeser. Dari kekerasan fisik ke bentuk yang lebih struktural. Seperti sensor, swasensor, dan pembatasan akses informasi.

Pergeseran ini tercermin dalam Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025, yang mencatat skor 59,5 dari 100.

Angka tersebut turun sekitar satu poin dibandingkan tahun sebelumnya, meski kategorinya tetap sama seperti pada 2023 dan 2024.

Peluncuran indeks ini digelar oleh Yayasan Tifa bersama Konsorsium Jurnalisme Aman dan Populix di Erasmus Huis, Jakarta, pada Senin 9 Februari 2026 lalu.

IKJ dirancang sebagai instrumen berbasis data untuk memetakan risiko, mencegah kekerasan terhadap jurnalis, serta mendorong terciptanya lingkungan kerja yang aman dan layak.

BACA JUGA:Kekerasan Terhadap Jurnalis Jadi Alarm Nasional, AJI Soroti Puluhan Kasus, Termasuk di Kaltim

Direktur Eksekutif Yayasan Tifa, Oslan Purba, menegaskan bahwa IKJ telah diproduksi secara konsisten selama tiga tahun terakhir.

Indeks ini berfungsi sebagai alat evaluasi kebebasan pers dan keselamatan jurnalis, sekaligus rujukan penting bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan.

“Indeks ini penting untuk memastikan jurnalis dapat bekerja dengan aman, sehingga hak masyarakat untuk memperoleh informasi tetap terjaga,” ujar Oslan dalam keterangan resmi tertulis yang diterima Nomorsatukaltim, pada Kamis 12 Februari 2026.

BACA JUGA:Enam Tahun Disway Kaltim, Teguhkan Komitmen Jurnalisme Berkualitas di Tengah Disrupsi Informasi

Policy and Society Research Manager Populix, Nazmi Tamara, menjelaskan bahwa penurunan paling tajam terjadi pada pilar individu jurnalis.

Sebanyak 67 persen responden mengaku pernah mengalami kekerasan, dengan bentuk dominan bukan lagi serangan fisik, melainkan pelarangan liputan dan pemberitaan.

“Kami memetakan masalah dari berbagai sisi, mulai dari individu jurnalis, perusahaan media, hingga faktor eksternal seperti regulasi dan peran negara,” kata Nazmi.

Selain itu, praktik sensor dan swasensor menguat secara signifikan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: