Menurut Andi, balap ketinting sudah menjadi tradisi warga Kutai Barat setiap peringatan HUT kabupaten. Selain melatih keberanian, kegiatan ini juga menumbuhkan semangat kebersamaan antarwarga sungai.
“Kami di sini bukan cuma adu cepat, tapi juga adu kreativitas. Setiap kampung punya gaya mesin dan warna perahu berbeda. Kadang kami saling tukar ide dan bantu setelan. Inilah yang bikin balapan ketinting selalu ramai,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski hari itu baru tahap awal perlombaan, semangat pembalap dan penonton sudah terasa tinggi. Percikan air, aroma bensin, dan raungan mesin menjadi identitas khas Festival Dahau, sekaligus menegaskan bahwa balap ketinting tetap menjadi bagian dari tradisi dan hiburan warga Kutai Barat.
“Yang penting ikut dan bisa dengar suara mesin kita menggema di Mahakam. Itu sudah kebanggaan bagi kami, orang sungai yang hidup dari arus ini,” tutur Andi.