Disdik Berau Percepat Penuntasan Masalah Anak Tidak Sekolah Hingga Pelosok

Sabtu 23-08-2025,09:58 WIB
Reporter : Maulidia Azwini
Editor : Yos Setiyono

BERAU, NOMORSATUKALTIM - Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Pendidikan (Disdik) tengah gencar menuntaskan persoalan anak putus sekolah (APS) dan anak tidak sekolah (ATS). 

Upaya ini menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah, mengingat masih banyak anak di kawasan pedesaan yang belum mendapatkan akses pendidikan yang layak.

Kepala Dinas Pendapatan (Disdik) Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah, mengatakan pihaknya saat ini tengah melakukan proses verifikasi dan validasi data anak tidak sekolah dengan metode by name by address. 

Langkah ini dilakukan untuk memastikan data akurat sehingga intervensi yang diberikan bisa tepat sasaran.

BACA JUGA: Miliki Potensi Menggiurkan, Pulau Kaniungan Mulai Fokus Dikembangkan Jadi Objek Wisata Unggulan

“Kami akan bekerja sama dengan sekolah negeri, sekolah swasta, maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Semua akan disasar karena program ini adalah prioritas pemerintah. Kita harus menuntaskan ATS,” tegasnya kepada Nomorsatukaltim, Jum’at 22 Agustus 2025

Dari hasil sementara, lanjutnya, Tanjung Redeb tercatat sebagai wilayah dengan jumlah anak putus sekolah terbanyak. Meski begitu, Mardiatul memastikan langkah penanganan dilakukan menyeluruh di seluruh kecamatan.

Skema penanganan juga dibuat berlapis. Anak usia sekolah dasar diarahkan masuk ke sekolah formal, sementara yang sudah melewati batas usia akan difasilitasi lewat PKBM. 

Dengan pola tersebut, diharapkan tidak ada lagi anak yang terlepas dari sistem pendidikan meski usianya sudah tidak sesuai jalur reguler.

BACA JUGA: HET Beras di Berau Dinilai Tidak Realistis, Dinas Pangan Sebut Distribusi dan Biaya Produksi Jadi Beban

“Misalnya ada anak usia 9 tahun, dia tetap masuk SD negeri. Sedangkan, yang usianya sudah melewati batas, maka diarahkan ke PKBM,” paparnya.

Meski demikian, Mardiatul mengakui tantangan di lapangan tidak ringan. Banyak anak yang sudah menikah atau terpaksa bekerja membantu orang tua, sehingga enggan kembali ke sekolah. 

Untuk kondisi semacam ini, Disdik tengah menyiapkan opsi lain seperti pembelajaran secara daring hingga sekolah rakyat, agar mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan meski dengan pola berbeda.

“Paling tidak mereka sudah kembali tercatat sebagai anak bersekolah. Karena yang paling memprihatinkan adalah jika mereka sama sekali tidak sekolah,” ucapnya.

BACA JUGA: Penyaluran Beras SPHP di Berau Lebih Masif Tahun Ini dibanding 2024

Kategori :