SPPG APT Pranoto Kutai Timur Perketat Data Alergi Siswa, Cegah Keracunan MBG
SPPG mendata alergi siswa untuk mencegah keracunan MBG.-Sakiya Yusri/Nomorsatukaltim-
KUTAI TIMUR, NOMORSATUKALTIM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) APT Pranoto di Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, telah berlangsung selama kurang lebih 4 bulan.
Selama pelaksanaan tersebut, pengelola program secara berkala melakukan evaluasi untuk memastikan keamanan pangan, kualitas gizi, serta kenyamanan siswa sebagai penerima manfaat.
Kepala SPPG APT Pranoto, Dinand Perdana mengatakan, salah satu perhatian utama dalam evaluasi adalah pendataan alergi makanan pada peserta didik guna mencegah potensi gangguan kesehatan.
“Sejak awal sebelum distribusi, kami sudah melakukan pendataan. Untuk siswa SD hingga SMP, orangtua mengisi formulir melalui Google Form terkait makanan yang tidak bisa dikonsumsi anaknya,” ujar Dinand.
BACA JUGA: Cegah Alergi, Kodim Kutim Inisiasi Pendataan Kondisi Kesehatan Siswa Penerima MBG
Sementara itu, mekanisme pendataan bagi siswa SMA dilakukan dengan pendekatan berbeda. Tim SPPG mendatangi sekolah untuk berinteraksi langsung dengan para siswa.
“Kalau SMA, kami bertanya langsung ke anak-anaknya karena mereka sudah mampu menyampaikan sendiri makanan apa yang tidak bisa dikonsumsi sebelum menu disajikan,” katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan selama 4 bulan, Dinand memastikan tidak pernah terjadi kasus keracunan makanan maupun reaksi alergi berat di lingkungan penerima MBG.
“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada kejadian keracunan atau alergi serius. Namun, data alergi paling banyak mengarah ke udang atau seafood,” jelasnya.
BACA JUGA: Polres Kutim Perketat Pengawasan MBG, Mulai Proses di Dapur hingga Distribusi
Ia mengungkapkan, permintaan menu berbahan udang kerap muncul, namun pihaknya harus bersikap selektif karena proses memasak dilakukan secara massal dalam satu wadah.
“Masakan kami dimasak dalam satu panci. Kalau ada bahan udang, itu berisiko bagi siswa yang alergi dan bisa menimbulkan kejadian luar biasa,” tegas Dinand.
Sebagai contoh, di salah satu sekolah tingkat SMA ditemukan belasan siswa yang memiliki alergi terhadap udang, sehingga menu berbahan seafood belum dapat diberikan.
“Di SMA 1 Sangatta Selatan saja ada sekitar 14 siswa yang alergi udang. Itu tentu menjadi pertimbangan utama kami,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

