Kurangi Ketergantungan dari Luar, Pemkab Kutim Pacu Produksi Padi, Targetkan Tiga Kali Panen Setahun
Ilustrasi lahan padi di Kutim.-istimewa-
KUTIM, NOMORSATUKALTIM - Pemkab Kutim berkomitmen memperkuat sektor pertanian pangan, khususnya padi, demi mencapai swasembada beras.
Hingga kini, produksi padi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang berjumlah sekitar 400 ribu jiwa.
Kondisi tersebut membuat Kutim masih bergantung pada pasokan beras dari luar daerah.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, produksi padi Kutim sebenarnya alami peningkatan.
BACA JUGA:Bendera Merah Putih Hampir Gagal Berkibar di Kutim, Pelatih Paskibraka Ungkap Penyebabnya
Pada 2023, produksi padi sebanyak 10.167,79 ton, naik pada 2024 menjadi 13.938,46 ton. Kemudian luas panen padi di Kutim pada 2023 seluas 3.505,89 hektare, naik pada 2024 menjadi 3.790,01 hektare.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kutim,Dyah Ratnaningrum, menuturkan, terdapat dua strategi besar yang tengah ditempuh.
Pertama adalah ekstensifikasi atau perluasan lahan pertanian sesuai program Bupati Kutim.
Kedua, intensifikasi, yaitu mendorong petani agar mampu meningkatkan indeks pertanaman dari dua kali menjadi tiga kali setahun.
BACA JUGA:Punya Website Terpelihara, Sangatta Utara Wakili Kutim di Lomba PPID Kaltim 2025
“Kalau kita hanya mengandalkan dua kali tanam setahun, maka kebutuhan pangan sulit terpenuhi. Tapi kalau bisa dipacu menjadi tiga kali, dengan 7.500 hektar sawah saja kita sudah bisa swasembada beras. Saat ini kita baru punya sekitar 2.638 hektar, artinya masih jauh dari ideal,” jelasnya.
BACA JUGA:Jadi Tolak Ukur Janji Politik Bupati, DPRD Kutim Minta OPD Konsisten Jalankan RPJMD
Upaya intensifikasi ini dianggap lebih realistis. Pasalnya, pembukaan lahan baru menghadapi banyak keterbatasan, sementara pola tanam tiga kali dalam setahun bisa langsung meningkatkan produksi dari lahan yang sudah ada.
Namun, tidak semua petani dapat menerapkan pola tanam tersebut.
Beberapa wilayah memiliki kearifan lokal yang mengikat. Misalnya, petani di Miau tetap menanam padi ladang sesuai tradisi turun-temurun yang tidak bisa diubah begitu saja.
Untuk mengatasi kondisi itu, Pemkab Kutim melibatkan peran pemuda melalui enam brigade pangan.
Brigade ini menjadi tenaga tambahan yang membantu mengelola lahan ketika kelompok tani tidak sanggup melakukan tanam tiga kali dalam setahun.
BACA JUGA:Pemkab Kutim Bersiap Melakukan Penyegaran, 10 Kepala Dinas Purna Tugas Akhir 2025
“Kalau ada kelompok tani yang tetap memilih hanya dua kali tanam, maka brigade pangan bisa masuk di musim tanam ketiga. Skemanya bisa melalui kerja sama bagi hasil maupun perjanjian lain sesuai kesepakatan dengan pemilik lahan,” terangnya.
Saat ini, sebagian besar petani sedang memasuki panen periode kedua. Pemerintah berharap pada Oktober mereka kembali turun ke sawah agar siklus tanam ketiga bisa terlaksana.
Dengan begitu, pada akhir Desember sudah bisa dilakukan panen ketiga dalam satu tahun.
“Kalau pola ini bisa berjalan konsisten, Kutim akan memiliki peluang besar untuk mencapai swasembada pangan tanpa harus menambah lahan dalam jumlah besar,” ujarnya.
Pemerintah menyadari bahwa target tiga kali tanam tidak bisa hanya diwujudkan dengan instruksi.
Dukungan berupa teknologi dan alat modern mutlak diperlukan agar petani bisa bekerja lebih cepat dan efisien.
Modernisasi alat mesin pertanian pun menjadi salah satu solusi utama.
BACA JUGA:Kutim Satukan 4 Sistem Pengadaan, Bisa Dipantau Real Time dari Satu Aplikasi 'SiCepat'
Percepatan ini bukan hanya soal efisiensi waktu, tetapi juga membuka peluang untuk menambah siklus tanam.
Semakin cepat lahan diolah, semakin besar kemungkinan petani menanam kembali dalam waktu singkat.
Selain membantu produktivitas, penggunaan alat modern juga menjawab tantangan regenerasi.
Banyak petani berusia di atas 45 tahun yang tidak lagi mampu bekerja berat secara manual. Dengan mesin, mereka tetap bisa produktif tanpa harus bergulat langsung dengan lumpur di sawah.
“Intinya, kita ingin memadukan tradisi bertani dengan teknologi modern. Petani tetap menjalankan kearifan lokal mereka, tapi produktivitas tetap terjaga dengan adanya dukungan brigade pangan dan peralatan canggih,” jelasnya.
BACA JUGA:Pemekaran Kabupaten Sangkulirang Masuki Tahap Finalisasi, Siap Masuk Paripurna DPRD
Dengan strategi ekstensifikasi, intensifikasi, dan modernisasi, Pemkab Kutim optimistis dalam beberapa tahun ke depan dapat mencapai kemandirian pangan.
Hal ini juga diyakini akan memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kita ingin agar Kutim bisa berdiri di atas kaki sendiri. Bukan hanya soal beras, tapi juga menyangkut martabat dan kedaulatan pangan daerah,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

