Tarif Pesawat Dorong Inflasi Balikpapan Akhir 2025, Tekanan Pangan Masih Membayangi
Pesawat komersial di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan. Kenaikan tarif angkutan udara menjadi salah satu pendorong inflasi Balikpapan pada Desember 2025.-(Disway Kaltim/ Salsa)-
BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM - Kenaikan tarif angkutan udara menjadi salah satu pendorong utama inflasi Kota Balikpapan pada akhir 2025. Lonjakan harga tiket pesawat terjadi di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru, bersamaan dengan tekanan harga sejumlah komoditas pangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan pada Desember 2025 mengalami inflasi sebesar 0,71 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Dengan capaian tersebut, inflasi Balikpapan sepanjang Januari-Desember 2025 tercatat 2,71 persen secara tahunan (year on year/yoy), masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Salah satu komponen yang memberi kontribusi signifikan terhadap inflasi Desember adalah angkutan udara. Kenaikan tarif penerbangan terutama terjadi pada rute Balikpapan-Surabaya dan Balikpapan-Makassar, seiring melonjaknya permintaan perjalanan pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
BACA JUGA: Emas dan Bahan Pangan Jadi Kontributor Inflasi di Kaltim, Berau Tertinggi
BACA JUGA: Kenaikan UMK Balikpapan Diprediksi Dongkrak Konsumsi Rumah Tangga, Inflasi Diprediksi Terkendali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan kenaikan tarif pesawat merupakan dampak dari meningkatnya mobilitas masyarakat yang tidak sepenuhnya diimbangi kapasitas penerbangan.
"Peningkatan tarif angkutan udara sejalan dengan naiknya permintaan perjalanan pada periode libur akhir tahun, sementara kapasitas penerbangan relatif terbatas," kata Robi.
Selain transportasi, tekanan inflasi Balikpapan juga berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,37 persen (mtm). Sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit, bawang merah, ikan layang, dan daging ayam ras mencatat kenaikan harga.
Kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa, Sulawesi, dan Banjarmasin akibat tingginya curah hujan, yang berdampak pada penurunan produksi.
BACA JUGA: BRI Kembali Raih Resertifikasi ISO 29119, Bank Pertama di Indonesia Bersertifikasi TMMi Level 3
BACA JUGA: BRI Visa Infinite Perkuat Layanan Nasabah Prioritas
Sementara itu, harga ikan layang meningkat akibat berkurangnya aktivitas nelayan karena kondisi gelombang laut yang tinggi. Harga daging ayam ras juga mengalami kenaikan seiring menurunnya pasokan ayam beku dari Jawa dan ayam segar dari wilayah Balikpapan dan sekitarnya, di tengah meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun.
Di sisi lain, Balikpapan mencatat adanya penahan inflasi dari sejumlah komoditas. Kelompok Pakaian dan Alas Kaki menjadi penyumbang deflasi dengan andil 0,02 persen (mtm).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

