Warna Baru Festival Dahau ke-26 Kutai Barat, Perempuan Ikut Berlaga di Oltrad Behempas Rotan
Petarung perempuan ikut berlaga dalam kejuaraan olahraga tradisional Behempas Rotan yang dihelat untuk memeriahkan Festival Dahau ke-26 Kutai Barat.-(Disway Kaltim/ Eventius)-
KUTAI BARAT, NOMORSATUKALTIM — Festival Dahau ke-26 tahun 2025 menghadirkan suasana berbeda. Olahraga tradisional (Oltrad) Behempas Rotan yang identik dengan laki-laki, kini dimeriahkan kehadiran peserta perempuan dari beberapa kecamatan di Kutai Barat (Kubar).
Kehadiran mereka menjadi warna baru yang mencuri perhatian penonton di Arena Dahau. Menandai babak baru dalam pelestarian budaya sekaligus kesetaraan peran dalam olahraga tradisional daerah.
Ketua Panitia Oltrad Behempas Rotan, Arkadius Ely, menyampaikan apresiasi kepada panitia besar Festival Dahau yang telah mengakomodir kegiatan tersebut sebagai bagian resmi dari peringatan HUT ke-26 Kabupaten Kutai Barat.
Ia menilai, dukungan itu menjadi bukti nyata kepedulian pemerintah daerah terhadap warisan budaya yang telah turun-temurun dijaga oleh masyarakat Dayak.
BACA JUGA: Puluhan Komunitas Oltrad di Kubar Dilatih Membuat Gasing
“Olahraga tradisional ini sangat penting untuk terus dilestarikan agar budaya nenek moyang kita tidak musnah. Kami juga senang karena tahun ini mulai banyak perempuan yang berani ikut berlaga di ajang behempas rotan,” ujar Arkadius Ely, Sabtu, 25 Oktober 2025.
Menurutnya, behempas rotan bukan hanya soal adu kekuatan fisik, tetapi juga tentang keberanian, teknik, dan ketangkasan. Karena itu, keikutsertaan perempuan dalam cabang olahraga khas Kutai Barat ini menunjukkan bahwa semangat pelestarian budaya kini telah merambah lintas gender.
“Ini pertama kalinya ada peserta perempuan ikut bertanding. Kami anggap ini sejarah baru bagi olahraga tradisional kita,” katanya.
Arkadius menjelaskan, selama ini Oltrad behempas lebih banyak diminati masyarakat di Kecamatan Jempang, Siluq Ngurai, dan Muara Lawa. Namun, di wilayah dataran atas seperti Barong Tongkok, Sekolaq Darat, dan Melak, peminatnya masih tergolong sedikit. Meski demikian, panitia tetap optimistis olahraga ini akan terus berkembang.
BACA JUGA: Menyumpit Meriahkan HUT ke-26 Kutai Barat, Tradisi Dayak Jadi Olahraga Prestasi
“Kami buka pertandingan secara open, siapa pun boleh ikut, baik laki-laki maupun perempuan. Mudah-mudahan ke depan akan lebih ramai dan merata di seluruh kecamatan,” ungkapnya.
Ia mengakui bahwa saat ini minat dari kaum perempuan memang belum sebanyak laki-laki. Namun, pihaknya percaya dengan pembinaan yang baik, antusiasme akan meningkat.
Panitia berencana membentuk kepengurusan resmi olahraga behempas di tingkat kabupaten hingga kampung-kampung agar kegiatan ini memiliki aturan, regulasi, serta pembina yang jelas.
“Kami berharap ke depan pemerintah bisa memberikan dukungan, misalnya dengan menyisihkan anggaran untuk kegiatan olahraga tradisional ini di Festival Dahau berikutnya. Dengan dukungan itu, Oltrad behempas bisa terus berkembang dan menjadi identitas budaya daerah,” tutur Arkadius.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

