IHSG Pekan Ini Diprediksi Kembali Menguat

IHSG Pekan Ini Diprediksi Kembali Menguat

Balikpapan, nomorsatukaltim.com - Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini berpeluang menguat. Dengan support di level 6,029 hingga 5,883 dan resistance di level 6,115 sampai 6,230.

Peluang menguatnya IHSG pekan ini dipengaruhi beberapa sentimen. Salah satunya dari dalam negeri, kemungkinan BI mempertahankan tingkat suku bunga acuan di tengah harapan pemulihan ekonomi kuartal II. Sedangkan sentimen yang akan memengaruhi dari luar negeri masih dari Amerika Serikat dan vaksin COVID-19. Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan penjualan retail periode Maret tumbuh 9,8 persen. Data ini melebihi konsensus Dow Jones yang memprediksi akan ada kenaikan penjualan ritel sebesar 6.1 persen. Ini merupakan kenaikan terkuat sejak Mei 2020. Penjualan retail naik akibat stimulus fiskal tambahan dari pemerintah. Yang salah satunya berupa bantuan tunai sebesar USD 1,400 sehingga membuat belanja konsumen melonjak. Departemen Tenaga Kerja Amerika melaporkan jumlah klaim pengangguran baru mingguan untuk periode hingga 10 April tercatat hanya 576,000. Jauh lebih rendah dari konsensus Dow Jones sebesar 710,00. Klaim tunjangan pengangguran untuk pertama kali turun ke posisi terendah sejak Maret 2020. "Data ekonomi Amerika Serikat yang baik menjadi katalis kenaikan pasar saham," kata Hans Kwee. Sentimen kedua, Wall Street naik menuju rekor tertinggi di tengah rilis laporan laba emiten-emiten blue chips yang kuat dan data ekonomi AS yang baik sebagai sinyal pemulihan ekonomi. Dari 6 emiten bank papan atas yang telah merilis laporan laba mayoritas menunjukan kinerja yang solid. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menembus 34.000 adalah sinyal bahwa minat investor untuk prospek pertumbuhan di masa meningkat dan pelaku pasar bergerak ke emiten-emiten yang lebih berorientasi pada valuasi. Permintaan untuk saham industri dan saham siklikal diperkirakan akan terus berlanjut karena program vaksin yang sukses dan kinerja emiten yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Kenaikan kinerja emiten Wall Street mengonfirmasi pemulihan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat. Ketiga, yield obligasi AS tenor 10 tahun juga menurun level 1,529% level terendah dalam 5 pekan terakhir. Jauh di bawah posisi tertinggi 14 bulan terakhir di level 1,766 persen yang terjadi pada akhir Maret 2021. Penurunan yield ini karena didorong oleh pembelian Jepang seiring dimulainya tahun finansial baru. Selain itu pelaku pasar masuk kembali membeli obligasi AS yang sudah terdiskon sejak awal tahun. Menurut Hans, yield yang stabil dan cenderung turun menjadi katalis positif bagi saham-saham teknologi yang mengandalkan pertumbuhan dan cenderung mendorong pasar saham negara berkembang naik. Sentimen keempat, yakni Presiden Fed San Francisco, Mary Daly mengatakan ekonomi Amerika Serikat masih jauh dari membuat "kemajuan substansial" untuk menuju target bank sentral. The Fed menargetkan inflasi 2 persen dan lapangan kerja penuh, sebagai target yang ditetapkan untuk mulai mempertimbangkan pengurangan dukungannya bagi perekonomian. Federal Reserve kembali menegaskan komitmennya guna mempertahankan suku bunga mendekati nol untuk tahun-tahun mendatang. Karena didorong kekhawatiran bahwa kenaikan inflasi saat ini akan bersifat sementara. "Komitmen The Fed menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan khususnya pasar saham," ujarnya. Kelima, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat merekomendasikan untuk menghentikan sementara penggunaan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson sampai Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melakukan penyelidikan. Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson menyebabkan enam wanita di bawah usia 50 mengalami pembekuan darah langka. Kelainan pembekuan darah memang sangat langka, tetapi berpotensi mengancam nyawa pada enam wanita penerima vaksin tersebut. Panel Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, memutuskan untuk menunda keputusan tentang vaksin COVID-19 Johnson dan Johnson. Johnson & Johnson sendiri mengumumkan akan menunda peluncuran vaksin tersebut di Eropa. Sementara Afrika Selatan juga menangguhkan penggunaannya. Ini merupakan kemunduruan proses vaksin karena menurunkan jumlah pasokan vaksin Amerika Serikat dan Eropa. Keenam, PDB China naik 18,3 persen di kuartal I 2021 (yoy). Ekspansi tercepat sejak pencatatan kuartalan tersebut dimulai pada 1992. Kenaikan tersebut sedikit lebih rendah dari prediksi ekonom yang disurvei Bloomberg. Yang memperkirakan ekspansi 18,5 persen. Secara kuartalan PDB China mengalami penurunan 0,6 persen. Penjualan retail mengalami kenaikan 34,2 persen melampaui perkiraan sebesar 28 persen. Produksi industri naik 14,1 persen lebih rendah dari perkiraan sebesar 17,2 persen. Data ekonomi China mengindikasikan ekspansi ekonomi yang cepat diperkirakan akan melambat di akhir tahun ini. Regulator China diperkirakan akan mendinginkan pasar properti dan mengendalikan tingkat utang domestik. Disiplin fiskal akan diperkuat sehingga menyebabkan pembiayaan pemerintah daerah dan investasi infrastruktur melambat. Ketujuh, Hans menyebut Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga rendah dan kemungkinan tidak berubah sampai akhir tahun ini. Kebijakan ini untuk mendukung pemulihan ekonomi, sambil menjaga stabilitas pasar keuangan. BI diperkirakaan akan mempertahankan 7 days reverse repurchase rate di level 3,50 persen dalam rapat kebijakan Senin dan Selasa pekan ini. Kebangkitan ekonomi China pada kuartal I 2021 akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi China akan langsung terasa pada sisi ekspor. Terutama dari sisi permintaan akan meningkat sehingga akan berdampak langsung terhadap ekspor Indonesia ke China. "Ini merupakan sinyal positif bahwa pemulihan ekonomi di dalam negeri bisa dilakukan dengan cepat," sebutnya. Kedelapan, data ekonomi Amerika Serikat yang baik dan laba emiten Wall Street yang di atas ekspektasi memberikan sentimen positif pada pasar saham. Selain itu, katalis potitif lainnya datang dari stabilnya Yield US Treasury dan pernyataan pejabat The Fed yang akan mempertahankan kebijakan moneter yang longgar. (fey/eny)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: