RSUD AWS Kekurangan Tempat Tidur, Dinkes Kaltim Siapkan Solusi Hotel Atlet untuk Pasien Pulih
Gedung Hotel Atlet komplek GOR Kadrie Oening, di Jalan KH Wahid Hasyim, Samarinda. -Mayang Sari/ Nomorsatukaltim-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) tengah mencari solusi atas keluhan masyarakat terkait keterbatasan tempat tidur di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah pemanfaatan hotel atlet milik Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) sebagai tempat perawatan pasien yang sudah pulih, namun belum dapat dipulangkan ke rumah.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin mengatakan, keluhan soal keterbatasan tempat tidur di RSUD AWS sempat disampaikan langsung kepada Wakil Gubernur Kaltim.
Dari laporan tersebut, Gubernur kemudian memerintahkan Dinas Kesehatan untuk segera mencari langkah alternatif agar tidak ada pasien yang telantar.
BACA JUGA: Kaltim Dapat Tambahan DBH, Gubernur dan Menkeu Sudah Bertemu
"Banyak pasien yang tidak mendapatkan tempat tidur karena rumah sakit penuh. Makanya, Pak Gubernur menyarankan agar memanfaatkan hotel atlet sebagai tempat penanganan sementara," ungkap Jaya Mualimin, Selasa 14 Oktober 2025.
Menurut Jaya, hotel atlet yang dikelola Dispora memiliki fasilitas memadai dan lokasinya berdekatan dengan RSUD Korpri.
"Makanya sarannya memanfaatkan model atlet karena bisa digunakan. Kami akan rapat dulu untuk membahas teknisnya," kata dia.
Rencana pemanfaatan hotel atlet itu, kata Jaya, akan dilakukan melalui mekanisme kerja sama (PKS) antara Dinas Kesehatan, Dispora, dan RSUD Korpri.
BACA JUGA: Bappenas dan Pemprov Sepakat Dorong Hilirisasi dan Transisi Energi Bersih untuk Kaltim
Namun sebelum itu, pihaknya akan melakukan pengecekan internal untuk memastikan kapasitas aktual tempat tidur di RSUD AWS.
"Sebelum kerja sama dijalankan, kami mau pastikan dulu laporan dari lapangan. Karena ada perbedaan data yang disebut penuh, tapi saat dicek oleh tim Pak Wagub ternyata ada yang kosong," bebernya.
Ia menilai, inkonsistensi informasi tersebut perlu diselidiki agar pelayanan tidak diragukan masyarakat. "Ini jadi persoalan buat kami. Kalau memang benar penuh, kami cari solusi. Tapi kalau ternyata tidak, berarti ada masalah internal yang harus kita perbaiki," terang Jaya.
Dia menegaskan, rumah sakit tidak boleh menolak pasien dengan alasan penuh tanpa memastikan seluruh kapasitas terpakai.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

