Dari pemantauan laporan melalui aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), wilayah Kecamatan Samboja tercatat sebagai daerah dengan jumlah suspek campak terbanyak dibanding kecamatan lainnya.
BACA JUGA: THR ASN Kukar Dipastikan Aman, Total Hampir Rp18 Miliar
BACA JUGA: Ketua DPRD Kukar Targetkan Pembayaran Utang ke Kontraktor Lunas Sebelum Lebaran
“Salah satu laporan terbesar berasal dari RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti Samboja yang mencatat 38 kasus suspek,” ungkap Hamdana.
Selain laporan dari rumah sakit tersebut, beberapa puskesmas di Kecamatan Samboja juga mencatat adanya temuan kasus suspek campak dengan jumlah yang cukup menonjol.
“Dari Puskesmas Samboja tercatat 8 suspek, kemudian dari Puskesmas Sungai Mardeka ada 12 suspek, dan dari Puskesmas Handil Baru terdapat sekitar 10 kasus suspek,” jelasnya.
Jika seluruh data tersebut digabungkan dengan laporan dari rumah sakit, maka jumlah suspek campak yang terdata di wilayah Kecamatan Samboja mencapai sekitar 68 kasus.
BACA JUGA: Sidang Gugatan Seleksi KPID Kaltim Masuk Tahap Mediasi, Penggugat Soroti Dugaan Afiliasi Parpol
BACA JUGA: Kasus ‘Ipar Adalah Maut’ di Kukar, Pria 26 Tahun Diamankan Polsek Loa Kulu
Menurut Hamdana, tingginya jumlah laporan di wilayah tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis Samboja yang merupakan kawasan pesisir sekaligus daerah perlintasan masyarakat dari berbagai wilayah.
Sementara itu, laporan dari puskesmas di kecamatan lain menunjukkan jumlah yang relatif lebih kecil.
Dalam menghadapi potensi penyebaran penyakit tersebut, Dinas Kesehatan Kukar melakukan berbagai langkah pencegahan melalui pendekatan lintas program di lingkungan fasilitas kesehatan.
“Langkah yang kami lakukan adalah mitigasi supaya penyakit ini tidak menyebar lebih luas. Salah satunya dengan melibatkan tim promosi kesehatan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat,” jelas Hamdana.
BACA JUGA: Pemkab Kukar Gandeng Universitas Hasanuddin Makassar Siapkan Dokter Spesialis