NOMORSATUKALTIM - Penentuan awal bulan Ramadan kerap memunculkan perbedaan di tengah masyarakat.
Tidak jarang, sebagian umat Islam mulai berpuasa lebih dulu, sementara yang lain menyusul sehari kemudian. Kondisi ini sering menimbulkan pertanyaan, mengapa awal puasa bisa berbeda?
Perlu dipahami, awal bulan dalam kalender Islam tidak ditentukan berdasarkan kalender masehi atau perhitungan biasa.
Sistem penanggalan Islam mengikuti peredaran bulan (qamariyah), bukan peredaran matahari seperti kalender yang digunakan sehari-hari.
Karena itu, penentuan awal Ramadan bergantung pada posisi dan kemunculan hilal, yakni bulan sabit tipis pertama yang terlihat setelah matahari terbenam.
Dalam ajaran Islam, awal bulan baru dimulai ketika hilal terlihat. Dasar ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam berpuasa setelah melihat hilal dan menyempurnakan bulan menjadi 30 hari jika hilal tidak terlihat.
BACA JUGA: Sakiti Hewan Secara Sengaja Menurut Pandangan Ulama Islam: Haram, Wajib Ganti Rugi
Di sinilah ilmu agama dan sains bertemu dalam proses penentuannya.
Dilansir dari Disway.id, ecara umum, terdapat dua metode utama yang digunakan untuk menentukan awal Ramadan, yaitu rukyat dan hisab.
Metode rukyat dilakukan dengan cara mengamati langsung hilal di langit pada tanggal 29 bulan Syakban.
Pengamatan dilakukan dari berbagai titik di Indonesia dengan melibatkan petugas, ahli falak, serta perwakilan ormas Islam.
Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Ramadan. Namun jika hilal tidak terlihat, bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari dan puasa dimulai sehari setelahnya.
Sementara itu, metode hisab menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan secara matematis.
Dengan teknologi dan rumus astronomi modern, para ahli dapat menghitung ketinggian bulan, sudut elongasi, hingga kemungkinan visibilitas hilal.
BACA JUGA:Sempat Heboh Pasien Cuci Darah Tidak Bisa Gunakan BPJS Kesehatan, Kini Sudah Bisa Lagi