Metode ini bahkan mampu memprediksi awal Ramadan jauh sebelum bulan tersebut tiba.
Hisab dinilai memiliki tingkat akurasi tinggi karena berbasis data ilmiah dan perhitungan yang presisi.
Di Indonesia, keputusan resmi awal Ramadan ditetapkan melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Dalam sidang tersebut, data hasil hisab dipaparkan terlebih dahulu, kemudian laporan rukyat dari berbagai daerah diverifikasi.
Berdasarkan dua pendekatan tersebut, pemerintah mengumumkan secara resmi kapan umat Islam mulai berpuasa.
Meski demikian, sejumlah organisasi Islam memiliki kriteria tersendiri dalam menentukan awal bulan. Muhammadiyah misalnya, lebih mengedepankan metode hisab dengan kriteria tertentu, sementara Nahdlatul Ulama cenderung mengombinasikan hisab dan rukyat dengan pendekatan berbeda.
BACA JUGA:Kapan Anak Mulai Belajar Puasa? Dokter Ungkap Bisa Sejak Dini Asal Bertahap dan Tidak Dipaksa
Perbedaan kriteria inilah yang terkadang menyebabkan awal puasa tidak selalu seragam.
Namun, perbedaan tersebut bukanlah bentuk kesalahan atau pertentangan, melainkan variasi metode dalam memahami dan menetapkan awal bulan berdasarkan dalil dan kajian ilmiah masing-masing.
Pada prinsipnya, tujuan dan ibadah yang dijalankan tetap sama, yakni melaksanakan puasa Ramadan sebagai kewajiban umat Islam.
BACA JUGA:Keutamaan dan Faedah Berpuasa pada Nisfu Syaban, Perbanyak Amalan Ini
Dengan demikian, penentuan awal puasa bukan dilakukan secara sembarangan. Ada proses pengamatan langsung, perhitungan astronomi yang akurat, serta pertimbangan keagamaan yang mendalam.
Kombinasi antara ilmu falak dan ajaran agama inilah yang menjadi dasar dalam menetapkan datangnya bulan suci Ramadan setiap tahunnya.