Bankaltimtara

Kapan Anak Mulai Belajar Puasa? Dokter Ungkap Bisa Sejak Dini Asal Bertahap dan Tidak Dipaksa

Kapan Anak Mulai Belajar Puasa? Dokter Ungkap Bisa Sejak Dini Asal Bertahap dan Tidak Dipaksa

Kapan Anak Mulai Belajar Puasa? Dokter Ungkap Bisa Sejak Dini Asal Bertahap dan Tidak Dipaksa.-istimewa-

NOMORSATUKALTIM Pertanyaan mengenai kapan anak sebaiknya mulai belajar berpuasa kerap muncul di kalangan orangtua menjelang Ramadan.

Kekhawatiran utama biasanya berkaitan dengan kemampuan anak menahan lapar dan haus dalam waktu lama, serta kesiapan fisik dan mental mereka untuk menjalani puasa.

Board of Medical Excellence Halodoc, dr. Irwan Heriyanto menjelaskan bahwa anak sebenarnya sudah dapat mulai belajar berpuasa sejak usia dini, selama dilakukan secara bertahap dan berdasarkan keinginan anak sendiri, bukan karena paksaan.

Menurutnya, proses pengenalan puasa lebih menekankan pada pembiasaan dan pengalaman, bukan pada lamanya waktu menahan lapar dan haus.

“Waktu saya kecil, mungkin umur TK, sudah mulai belajar puasa. Enggak harus full, enggak harus setengah hari. Dia punya niat mau puasa saja, itu sudah bagus,” ujar dr. Irwan.

BACA JUGA:Kenalkan Tokoh Perkasa dari Berau, Film Kolosal Raja Alam akan Segera Hadir di Layar Lebar

Ia menuturkan, anak tidak harus langsung menjalani puasa penuh sejak awal. Orangtua dapat mengajak anak mencoba berpuasa dengan durasi yang sangat singkat, misalnya satu hingga dua jam, atau hingga waktu zuhur.

Jika anak merasa mampu dan nyaman, durasi puasa bisa ditingkatkan secara perlahan.

“Kalau dia kuat sampai zuhur, ya enggak apa-apa. Nanti bisa ditingkatkan pelan-pelan. Nanti di usia tujuh tahun, mungkin dia sudah bisa full. Itu disemangati saja terus,” katanya.

Menurut dr. Irwan, pendekatan yang menyenangkan sangat penting dalam proses belajar puasa. Anak yang merasa bangga karena berhasil mencoba berpuasa, meski hanya sebentar, akan lebih termotivasi untuk mengulanginya.

BACA JUGA:Lula Sebut Donald Trump Berupaya Menjadi Pemilik Tunggal PBB Baru yang Diciptakannya

Rasa bangga tersebut menjadi bagian dari pembentukan kebiasaan positif sejak dini.

“Dimulai dari sejak dini saja. Kalau memang dia sudah mau ikut puasa, ya enggak apa-apa. Mau satu jam, dua jam, yang penting buat dia, ‘eh aku sudah puasa’,” ujarnya.

Meski demikian, dr. Irwan mengingatkan bahwa kondisi gizi anak tetap harus menjadi perhatian utama orangtua.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait