Iklim 2026 Diprediksi Stabil, BMKG Tetap Ingatkan Risiko Banjir, Karhutla dan DBD

Sabtu 03-01-2026,09:01 WIB
Reporter : Hariadi
Editor : Hariadi

Beberapa wilayah seperti Sumatra bagian selatan, pesisir utara Jawa, sebagian Kalimantan Timur dan Tengah, serta Papua Selatan berpotensi mengalami suhu rata-rata di atas 28 derajat Celsius. 

BACA JUGA: Wali Kota Samarinda Dalami 2 Titik Banjir, Rencana Penanganan Diperkuat Akhir Desember

BACA JUGA: Banjir Rendam Sejumlah Desa di Kabupaten Tebing Tinggi Kalsel, Ketinggian Air hingga Sentuh Atap Rumah

Sementara wilayah dataran tinggi diperkirakan memiliki suhu lebih rendah, sekitar 19–22 derajat Celsius.

“Secara bulanan, anomali suhu udara di Indonesia pada tahun2026 berkisar antara -0,5 — +0,3 °C dengan anomali terendah diprediksi terjadi pada Mei dan anomali tertinggi terjadi pada Juli 2026,” jelas Faisal.

Waspada Banjir, Karhutla, dan DBD

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menilai, iklim normal pada 2026 berpotensi menjaga kualitas udara tetap baik karena curah hujan cukup mendukung proses pembersihan alami atmosfer. 

Namun, ia menegaskan risiko tetap ada, terutama saat musim hujan dan kemarau.

BACA JUGA: Kata BMKG Soal Efek La Nina Lemah: Kaltim Musim Hujan Panjang, Samarinda Rawan Banjir

BACA JUGA: Waspada Potensi Musim Hujan dan Banjir, BPBD Samarinda Mulai Lakukan Langkah Ini

“Aktifnya fenomena La Nina lemah pada musim hujan awal tahun perlu mendapatkan perhatian untuk antisipasi potensi dampak fenomena hidrometeorologi ekstrem seperti kejadian banjir dan longsor. Di sisi lain, pada periode kemarau, dapat terjadi peningkatan risiko karhutla, sehingga memerlukan upaya mitigasi sistematis lebih dini,” tuturnya.

Selain bencana alam, BMKG juga mengingatkan potensi meningkatnya kasus DBD. Curah hujan dan kelembapan udara yang tinggi dinilai sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. 

Kombinasi suhu hangat dan kelembapan tinggi juga berpotensi menurunkan kenyamanan termal tubuh, sehingga masyarakat diminta lebih menjaga kesehatan.

BMKG mendorong pemanfaatan informasi iklim untuk mendukung berbagai sektor, mulai dari pertanian, perkebunan, sumber daya air, kesehatan, hingga energi. 

BACA JUGA: 2 Anak di PPU Meninggal Dunia Akibat DBD

BACA JUGA: Hingga Oktober 2025, DBD di Kaltim Tembus 3.647 Kasus dengan 11 Orang Meninggal Dunia

BMKG juga mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terus memantau pembaruan informasi iklim melalui kanal resmi BMKG guna memperkuat langkah antisipasi sepanjang 2026.

Kategori :