“Pelatihan penjamah makanan ini penting untuk mencegah terjadinya kejadian luar biasa, seperti keracunan makanan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Pemkab Kutim Batalkan Ganti Rugi Lahan Milik Kelompok Tani di Sangatta Utara
BACA JUGA: Upah Pekerja Naik, UMK Kutim 2026 Tembus Rp4 Juta Lebih
Dinand menegaskan, keputusan untuk tidak memaksakan distribusi MBG merupakan arahan langsung dari Koordinator Wilayah MBG Kutai Timur.
“Koordinator wilayah menegaskan, kalau belum ada mekanisme yang jelas, jangan dipaksakan dan jangan mengejar target,” tegasnya.
Selain persiapan teknis dan peningkatan kapasitas relawan, SPPG APT Pranoto juga mulai menyiapkan skema pelaksanaan MBG selama Ramadan. Menu yang disediakan akan disesuaikan agar dapat dikonsumsi oleh peserta didik yang menjalankan ibadah puasa.
“Selama Ramadan, menu kami ubah menjadi menu kering yang bisa dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa,” jelas Dinand.
BACA JUGA: 63.101 KRS Tersebar di 18 Kecamatan di Kutim, Bupati Tegaskan Kolaborasi untuk Atasi Stunting
BACA JUGA: Antisipasi Krisis Pangan, Pemkab Kutim Cetak Sawah 1.900 Hektare untuk Petani Muda
Namun, terdapat pengecualian bagi dua sekolah nonmuslim penerima MBG, yakni SD Star Generation dan TK Star Kids, yang tetap mendapatkan makanan siap santap.
Sementara itu, waktu distribusi selama Ramadan akan disesuaikan mendekati jam pulang sekolah, sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 Wita.