Sementara itu dikutip dari BBC news, menurut psikolog Retno Lelyani Dewi, anak pada usia 0-7 tahun belum memiliki kemampuan berpikir secara konkret. Mereka cenderung sulit memahami apa yang disebut kebahagiaan.
"Saat usia 0-7 tahun kalau ditanya, kamu bahagianya gimana? Dia bingung. Tapi kalau ditanya, mau kue? Dia pasti jawab mau atau tidak," katanya, dikutip dari BBC news.
"Anak usia 7-11 tahun, juga kalau ditanya kamu bahagianya apa? Juga belum bisa menjawab. Seandainya ditanya kamu senangnya apa? Dijawab, mainan, misalnya."
"Tapi begitu menginjak usia di atas 11 tahun, mereka mulai berpikir secara konkret dan memahami seperti apa perasaan mereka."
"Anak-anak mulai tahu apa itu penderitaan, apa itu kebahagiaan, merasakan kesepian, terluka, merasa tidak dibutuhan," papar Retno Lelyani Dewi.
Namun, pada fase tersebut, atau ketika perkembangan korteks prefrontal—bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi kognitif seperti pengambilan keputusan dan risiko—belum optimal, mereka kesulitan mengontrol emosi atau stres yang datang.
"Saat ada badai (emosi), tekanan stres, remaja seringkali mengambil tindakan yang kalau bahasa sederhananya, enggak pakai pikir panjang," paparnya.
Hal senada juga diutarakan dosen psikologi Universitas Fort De Kock Bukittinggi, Fitri Yanti.
Fitri menjelaskan bahwa distres yang dialami oleh seorang remaja dapat terjadi saat adanya tekanan dari permasalahan keluarga seperti konflik antara ibu dan ayahnya.
"Selain itu, distres ini dapat terjadi ketika anak tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang mereka alami baik di sekolah atau di lingkungan lainnya," kataya.
Dosen Fakultas Psikologi dari Universitas Pancasila, Aully Grashinta menerangkan ada beberapa faktor yang menyebabkan toleransi mereka terhadap stres sangat rendah hingga tersembul ide atau pikiran bunuh diri.
Kepribadian yang rentan.
Pada remaja yang tidak mudah terbuka pada orang lain atau kerap menyelesaikan masalah sendirian, akan sangat rentan terhadap stres atau disebutnya tidak memiliki kesehatan mental yang baik.
Pola asuh atau didikan keluarga.
Beberapa orang tua, ungkapnya, mendidik anak-anak mereka tanpa mengajarkan nilai-nilai pentingnya sebuah proses dan usaha.
Orang tua bahkan ada yang ingin agar anaknya tidak mengalami kesulitan dalam hidupnya. Sehingga tidak membiasakan anak-anak mereka mengatasi atau memecahkan masalahnya sendiri.