Salah satu inovasi yang kini berkembang pesat adalah sistem keramba apung, yang terbukti efektif meningkatkan hasil ikan laut seperti kerapu dan bandeng. Sistem ini juga membantu nelayan kecil memanfaatkan pesisir dengan lebih efisien tanpa merusak ekosistem laut.
"Kalau dulu kita bicara eksploitasi, sekarang orientasinya pemanfaatan berkelanjutan. Ini kunci ekonomi biru yang sedang kami dorong,"ujar Irhan.
Selain ekspor, DKP juga memperhatikan selera pasar domestik yang sangat beragam.
"Ada juga Suku Kutai dan Banjar pada umumnya menyukai ikan air tawar, sementara masyarakat asal Sulawesi lebih memilih ikan laut. Karena itu, pasokan untuk dua segmen ini harus seimbang," beber Irhan.
BACA JUGA: Bontang Ekspor Perdana Rumput Laut ke India
Keberagaman tersebut menjadikan Kaltim bukan hanya pasar potensial, tetapi juga laboratorium pengembangan produk perikanan dari budidaya air tawar di wilayah hulu hingga perikanan tangkap di pesisir dan pulau-pulau kecil.
Pada 2024, total ekspor produk perikanan Kaltim menembus Rp423 miliar dengan volume 2.785 ton. Dari jumlah itu, udang windu berkontribusi Rp267,1 miliar atau lebih dari 63 persen.
Selain udang windu, empat komoditas utama lain yang menopang ekspor Kaltim yakni udang pink senilai Rp49,3 miliar, udang putih Rp13,7 miliar, ikan bawal putih segar Rp10,6 miliar, dan ikan kerapu segar Rp7,9 miliar.
Irhan menilai, peningkatan nilai ekspor tersebut menunjukkan daya saing perikanan Kaltim semakin kuat di pasar global.
BACA JUGA: Daya Beli Ekspor Batu Bara Lesu, Banyak Perusahaan Kurangi Produksi hingga Rumahkan Karyawan
"Kita sudah punya reputasi bagus, terutama untuk kualitas udang. Nilai jualnya berbasis standar dolar AS," ucap Irhan.
Sebagai informasi, pasar ekspor produk perikanan Kaltim kini telah menjangkau Vietnam, Amerika Serikat, Inggris, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Hong Kong, Filipina, Malaysia, Taiwan, dan Singapura.
Saat ini, pihaknya tengah menjajaki peluang ekspor produk baru berupa kerang dara atau todai, yang cukup populer di kalangan masyarakat lokal.
Di samping itu, sejumlah komoditas lain juga berkontribusi terhadap nilai ekspor perikanan Kaltim, di antaranya kepiting bakau, lobster, siput laut, hingga belut.
BACA JUGA: Balikpapan Jadi Sentra Ekspor Kawasan Timur Indonesia, UMKM Siap Tembus Pasar Global?
Irhan menegaskan, peningkatan daya saing tidak cukup hanya mengandalkan produksi. Standar mutu dan keamanan pangan menjadi kunci utama agar produk perikanan Kaltim diterima di pasar luar negeri.