Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Sekjen PBB: Dunia Masuki Masa Kelam
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mendesak AS dan Rusia untuk membuat kesepakatan baru tentang senjata nuklir.-(Foto/ Reuters)-
KANADA, NOMORSATUKALTIM – Berakhirnya perjanjian terakhir pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia menandai babak baru yang mengkhawatirkan bagi keamanan global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyebut situasi ini sebagai “masa kelam” bagi perdamaian internasional, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.
Perjanjian Pengurangan dan Pembatasan Senjata Serangan Strategis Lebih Lanjut atau New START resmi berakhir pada 5 Februari.
Dengan berakhirnya perjanjian tersebut, 2 negara pemilik senjata nuklir terbesar di dunia tidak lagi terikat oleh batasan yang mengatur jumlah dan penempatan persenjataan nuklir strategis, setelah 15 tahun pembatasan diberlakukan.
BACA JUGA: Indonesia Tegaskan Sikap Nonblok di Tengah Isu Akuisisi Greenland oleh AS
BACA JUGA: Amerika Serikat Siapkan Skenario Serangan Militer ke Iran
"Berakhirnya Traktat New START tengah malam ini merupakan masa yang kelam bagi perdamaian dan keamanan internasional," kata Guterres dalam pernyataannya, dikutip dari Antara.
Ia menegaskan bahwa dunia kini berada dalam kondisi tanpa pembatasan yang mengikat dan terverifikasi terkait senjata nuklir strategis antara Rusia dan AS.
Menurut Guterres, mekanisme pengendalian senjata nuklir yang dibangun selama puluhan tahun telah berperan penting menjaga stabilitas global.
Perjanjian-perjanjian bilateral tersebut dinilai mampu mencegah bencana nuklir serta mengurangi risiko kesalahan perhitungan yang berakibat fatal.
BACA JUGA: Lula Sebut Donald Trump Berupaya Menjadi Pemilik Tunggal PBB Baru yang Diciptakannya
BACA JUGA: Klaim atas Greenland, AS Didesak Patuhi Piagam PBB
Dari Perundingan Pembatasan Senjata Strategis (SALT) hingga New START, kedua negara telah memangkas ribuan senjata nuklir dan memperkuat arsitektur keamanan internasional.
“Pembubaran capaian selama puluhan tahun ini tidak bisa terjadi pada waktu yang lebih buruk,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

