Suardi, seorang supir angkot yang saban hari mengais rezeki di Terminal Sungai Kunjang, Samarinda, hadir bersama dua rekannya.
Sejak pukul 10.00 WITA, mereka sudah menunggu di bawah terik matahari, berharap mendapat sedikit bantuan untuk meringankan beban hidup.
"Kami sudah menunggu sejak pagi. Supir angkot seperti kami makin sulit mencari nafkah. Penumpang berkurang karena orang lebih memilih transportasi online. Sementara itu, urusan Bahan Bakar Minyak (BBM) semakin menyulitkan kami," kata Suardi.
"Antrian panjang di SPBU dan kewajiban memakai barcode sering kali membuat kami kesulitan mendapatkan pertalite. Kadang dalam sehari, kami hanya bisa membawa pulang Rp100 ribu," ucapnya.
BACA JUGA: Dishub Kubar Catat 5.000 Orang Mudik Melalui Pelabuhan Melak
Tatapan matanya menyiratkan harapan. Ia bersama beberapa kawanan supir angkot berharap Gubernur Kaltim bisa menemukan solusi agar distribusi BBM bersubsidi menjadi lebih mudah bagi mereka yang benar-benar membutuhkannya. (*)