BACA JUGA : Coach Justin Sebut Shin Tae-yong 'Kepala Batu' usai Laga Timnas Indonesia vs Myanmar, Kenapa?
Tak hanya itu, tim juga membuat purwarupa yang berkhasiat untuk antipenuaan dini, antijerawat, pencerah wajah.
“Tiga produk sudah dipilih sesuai dengan kondisi pasar saat ini,” ujar Irawan sembari menunjukkan sampel produk perawatan kulit dengan nama dagang WEMACA (Wehea-Kelay Macaranga).
Ia berkata, tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak produk turunan.
Lantaran masih banyak jenis pakan lain yang belum dioptimalkan khasiatnya.
Manfaat dari kolaborasi pengelolaan bentang alam ini juga dirasakan oleh dunia usaha.
Direktur Utama PT Gunung Gajah Abadi, Totok Suripto menekankan, melalui kemitraan ini mampu membantu perusahaan dalam menerapkan praktik pengelolaan konsesi yang berkelanjutan.
"Sebelum ada kolaborasi, pemegang PBPH-HA ini sudah menerapkan aturan-aturan berkelanjutan, tapi berjalan sendiri-sendiri. Padahal isu yang dijaga bergerak lintas batas dan dampak pengelolaan di tiap perusahaan juga pasti lintas batas,” ujar pria yang akrab disapa Totok itu.
Baginya, keberadaan forum sangat membantu menyelaraskan standar praktik baik di tiap perusahaan.
Di kesempatan yang sama, Yuliana Wetuq yang mewakili perwakilan Lembaga Adat Dayak Wehea menuturkan, menjadi anggota forum membantu menjaga hutan terakhir mereka.
BACA JUGA : Pegawai Bapenda Kutim Ditangkap Kejaksaan, Diduga Manipulasi Pajak untuk Keuntungan Pribadi
“Kami mendapatkan kawan untuk patroli, survei dan menjaga hutan lindung Wehea,” imbuhnya.
Disamping itu, Anggota Dewan Pengawas YKAN, Wiratno mengucapkan apresiasi atas kolaborasi terhadap semua pihak dalam pengelolaan Wehea-Kelay.
"Pelajaran ini bisa menjadi referensi untuk diimplementasikan di tempat lain di Indonesia. Misalnya dalam pengelolaan sumber daya alam bisa memberikan banyak manfaat tidak hanya dari sisi ekologi, tapi juga ekonomi bagi pelaku usaha sekaligus masyarakat,” tutup Wiratno.