Namun, kenyataannya, literasi politik sering kali hanya jadi formalitas dalam bentuk seminar atau ceramah yang tidak menyentuh akar permasalahan.
BACA JUGA: Pemprov Target Beasiswa Kaltim Tuntas Tersalurkan pada 10 Desember 2024
Namun, kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemilih. Ketika masyarakat melihat politisi yang sama dengan janji yang sama di setiap pilkada, rasa skeptis itu wajar muncul.
Apalagi jika mereka melihat tidak ada perubahan signifikan dari satu periode ke periode berikutnya. Fenomena ini disebut message fatigue, di mana audiens merasa jenuh dengan pesan yang sama berulang kali tanpa hasil yang nyata.
Di sisi lain, tingginya angka golput juga menantang pemerintah dan penyelenggara pemilu untuk lebih kreatif dalam meningkatkan partisipasi.
Kampanye "ayo memilih" yang bersifat generik sudah tidak cukup. Dibutuhkan pendekatan yang lebih personal, berbasis komunitas, dan relevan dengan kebutuhan lokal.
Contohnya, menggunakan narasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Kaltim, seperti isu tambang, akses air bersih, atau kemacetan.
Golput juga menjadi refleksi atas kegagalan para kandidat dalam menawarkan visi yang segar dan solusi yang relevan.
Pemilih tidak ingin janji-janji besar yang sulit dipercaya; mereka ingin solusi nyata yang langsung terasa dampaknya.
Misalnya, bagaimana kandidat menawarkan rencana konkrit untuk mengatasi konflik tambang atau meningkatkan kualitas pendidikan di daerah pedalaman Kaltim?
BACA JUGA: KPU Kota Samarinda Imbau Warga Tidak Terpengaruh Hasil Perhitungan Cepat
Jika narasi ini tidak ada, maka jangan heran jika golput terus meningkat.
Di era digital, peluang untuk memperbaiki komunikasi politik sebenarnya sangat besar. Kandidat bisa memanfaatkan platform digital untuk mendengarkan aspirasi masyarakat melalui survei daring, diskusi interaktif, atau bahkan sesi tanya jawab di media sosial.
Sayangnya, banyak kandidat yang masih terjebak dalam pola kampanye lama yang hanya fokus pada promosi diri, bukan membangun dialog.
Selain itu, media lokal juga memiliki peran penting dalam mengurangi angka golput. Media bisa menjadi jembatan antara kandidat dan masyarakat, dengan menyajikan informasi yang objektif, kritis, dan relevan. Media juga bisa memfasilitasi diskusi publik yang melibatkan berbagai pihak, sehingga pemilih merasa lebih terlibat dalam proses politik.