Intens Gunakan Media Sosial, Gen Z Paling Rentan Hadapi Gangguan Mental
Ilustrasi kesehatan mental.-freepik-
BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM - Generasi Z (Gen Z) menjadi kelompok usia yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental dan emosional.
Temuan ini muncul dalam studi mengenai dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental yang dilakukan oleh peneliti dari Princeton University bekerja sama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Penelitian tersebut menemukan bahwa sekitar 10 persen responden secara keseluruhan mengaku memiliki kondisi kesehatan mental buruk atau sangat buruk.
Sementara 90 persen lainnya menyatakan kondisi mental mereka cukup baik atau sangat baik. Namun jika dilihat berdasarkan kelompok usia, proporsinya berbeda.
Generasi Z, yakni yang lahir setelah 1997, menjadi kelompok dengan tingkat gangguan kesehatan mental tertinggi, yakni sekitar 16 persen.
Sementara itu, generasi milenial yang lahir pada 1981–1996 mencatat angka sekitar 8 persen. Generasi X yang lahir pada 1965–1980 berada di angka sekitar 7 persen, dan kelompok baby boomer atau generasi yang lahir sebelum 1965 juga sekitar 7 persen.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan temuan tersebut memperlihatkan bahwa kelompok usia muda yang paling intens menggunakan media sosial juga menjadi kelompok yang paling rentan mengalami tekanan psikologis.
Perdebatan mengenai dampak media sosial terhadap kesehatan mental sendiri sebenarnya sudah berlangsung lama. Banyak pihak menilai media sosial memicu kecemasan dan depresi, tetapi bukti ilmiah yang benar-benar menunjukkan hubungan sebab-akibat masih terbatas.
Karena itu, peneliti dari Princeton University bersama SMRC mencoba menguji persoalan tersebut secara langsung melalui sebuah studi eksperimental.
“Hasilnya menunjukkan satu temuan penting, yakni menghentikan penggunaan media sosial selama satu bulan dapat memperbaiki kesehatan mental penggunanya,” ungkap Deni Irvani, dalam keterangan resmi yang diterima Nomorsatukaltim, Minggu (15/3/2026).
Efek tersebut bahkan menjadi lebih kuat ketika penghentian penggunaan media sosial dilakukan secara kolektif oleh seluruh anggota keluarga.
Peneliti dari Princeton University, Nicholas Kuipers, menyatakan bahwa studi ini bertujuan mencari bukti ilmiah yang lebih meyakinkan mengenai hubungan antara media sosial dan kesehatan mental.
“Penonaktifan media sosial meningkatkan kesehatan mental secara substansial, terutama pada mereka yang berhenti menggunakan media sosial bersama seluruh anggota rumah tangga,” kata Kuipers.
Temuan studi tersebut dipresentasikan melalui kanal YouTube SMRC TV pada Minggu, 15 Maret 2026.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode eksperimen terhadap populasi pengguna media sosial di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
