Perluas Serangan di Gaza dan Bangun Permukiman Baru di Tepi Barat, Israel Banjir Kecaman dari Negara Eropa
Warga Palestina berbondong-bondong mencari perlindungan saat asap membubung setelah serangan Israel terhadap sebuah bangunan di Jabalia, di bagian utara Jalur Gaza.-AFP-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Ketegangan di Jalur Gaza kembali meningkat. Israel mengumumkan memperluas operasi militernya ke Kota Gaza, sementara Inggris mengecam keputusan Israel yang menyetujui pembangunan pemukiman baru di Tepi Barat.
Juru bicara militer Israel (IDF), Effie Defrin, menyatakan bahwa pihaknya memasuki fase kedua Operasi Gideon’s Chariots yang sudah diluncurkan sejak Mei lalu.
Menurutnya, fokus utama saat ini adalah memperlemah Hamas di Kota Gaza, yang ia sebut sebagai “benteng teror militer.”
BACA JUGA:Singapura Kategorikan Vape sebagai Narkoba, Pengguna dan Penjual Bisa Dihukum Penjara
BACA JUGA:2 Super Hercules Milik TNI Sukses Jatuhkan Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza
Pernyataan Defrin sejalan dengan instruksi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang meminta percepatan operasi untuk menguasai sepenuhnya Kota Gaza. Kawasan padat penduduk di bagian utara Jalur Gaza itu dihuni ratusan ribu orang, termasuk para pengungsi.
Namun rencana tersebut langsung memicu kecaman internasional. Hamas menilai langkah Israel menunjukkan “pengabaian terang-terangan” terhadap upaya mediasi gencatan senjata dan perundingan pembebasan sandera.
“Pengumuman operasi ini jelas-jelas mengabaikan upaya para mediator dan menempatkan hampir satu juta warga sipil di Kota Gaza dalam bahaya,” tegas Hamas dalam pernyataannya dikutip dari The Guardians.
BACA JUGA:Pertama di Asia, Jepang Operasikan Pembangkit Listrik Osmotik yang Memanfaatkan Air Laut
Sementara itu, Israel mengklaim perluasan operasi ini dipicu serangan sekitar 18 pejuang Hamas terhadap posisinya sehari sebelumnya. Meski disebut sebagai serangan besar-besaran oleh Israel, banyak pihak menilai skalanya relatif kecil.
Di lapangan, pasukan Israel disebut sudah mencapai pinggiran Kota Gaza dan mulai bergerak di kawasan Zeitoun.
Pemerintah Israel juga memobilisasi tambahan 60 ribu tentara cadangan untuk memperkuat operasi tersebut.
Situasi kemanusiaan di Gaza kian memburuk. Ribuan warga mulai mengungsi dalam beberapa hari terakhir untuk menghindari kemungkinan serangan besar. Krisis pangan yang parah membuat kondisi warga semakin rentan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

