Rendahnya Imunisasi Bikin Kasus Campak Masih Muncul di Kaltim, Balikpapan Tertinggi dengan 53 Kasus
Ilustrasi imunisasi campak.-istimewa-
BACA JUGA: DBH Kaltim Dipangkas 50 Persen, Pengamat: Bersuara Lantang, Pemerintah Jangan Diam
"Kalau anak-anak sudah diimunisasi, saat terkena campak gejalanya biasanya lebih ringan, tidak berisiko berat. Tapi bagi yang tidak diimunisasi, risikonya jauh lebih tinggi," kata dia.
Adapun ciri-ciri campak, biasanya diawali dengan demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah. Dalam beberapa hari kemudian, muncul ruam merah di kulit yang menyebar dari wajah hingga seluruh tubuh. Meski tampak sederhana, campak dapat berkembang menjadi penyakit serius bila tidak segera ditangani.
Tak hanya itu, komplikasi campak bisa berupa pneumonia (radang paru), diare berat, hingga infeksi mata yang berisiko menyebabkan kebutaan. Pada kasus tertentu, campak juga bisa menyebabkan peradangan otak.
"Campak ini bukan penyakit ringan, bisa menimbulkan komplikasi serius. Untungnya, hingga saat ini di Kaltim belum ada laporan kasus kematian akibat campak," tuturnya.
BACA JUGA: Mantan Karyawan RSHD Samarinda Kecewa Tunggakan Gaji Tak Dibayar
Berdasarkan data Dinkes Kaltim, cakupan imunisasi dasar lengkap di provinsi ini baru mencapai sekitar 75 persen. Angka tersebut masih di bawah target nasional yang ditetapkan pemerintah, yakni minimal 90 persen.
Kondisi ini berarti masih ada sebagian anak-anak di Kaltim yang belum memiliki kekebalan terhadap penyakit menular, termasuk campak.
Mereka menjadi kelompok yang sangat rentan tertular ketika ada kasus baru yang masuk ke lingkungan sekitar.
Ivan menjelaskan, rendahnya cakupan imunisasi dipengaruhi sejumlah faktor. Ada orang tua yang masih memperdebatkan kehalalan vaksin, ada pula yang meyakini obat herbal lebih cukup, serta ada yang khawatir anaknya mengalami demam setelah imunisasi.
BACA JUGA: Misteri 27 Bom Molotov di Unmul Akhirnya Terungkap
"Padahal vaksin itu gratis dan tersedia di semua fasilitas kesehatan. Jadi seharusnya tidak ada alasan untuk tidak membawa anak-anak diimunisasi," bebernya.
Dia menilai, imunisasi tidak hanya melindungi anak secara individu, tetapi juga menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity).
Jika cakupan imunisasi tinggi, rantai penularan penyakit akan terputus sehingga jumlah kasus bisa ditekan.
Sebaliknya, bila cakupan imunisasi rendah, akan selalu ada kelompok anak-anak yang rentan dan bisa menjadi titik awal penyebaran penyakit.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

