Pembangunan Jaringan Listrik PLN di Siluq Ngurai Tertunda, Terkendala Status Jalan
Camat Siluq Ngurai, Bartolomius Djukuw ungkap kendala pemasangan jaringan listrik PLN di wilayahnya.-(Disway Kaltim/ Eventius)-
KUTAI BARAT, NOMORSATUKALTIM — Sebagian besar kampung di Kecamatan Siluq Ngurai, Kutai Barat (Kubar), masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik.
Dari 16 kampung di wilayah ini, baru 7 yang telah tersambung jaringan PLN, sementara 9 lainnya masih berstatus menunggu.
Masyarakat setempat masih mengandalkan mesin genset atau sumber energi alternatif untuk kebutuhan sehari-hari.
Camat Siluq Ngurai, Bartolomius Djukuw menjelaskan kendala utama pembangunan jaringan listrik di wilayahnya.
BACA JUGA: 234 Rumah di Berau Teraliri Listrik Gratis PLN, Pemkab Targetkan 100 Persen Terang 2027
BACA JUGA: Interkoneksi Listrik Mahakam-Barito-Kayan Beroperasi Penuh Akhir Tahun
“Untuk penanaman tiang-tiang listrik, dibutuhkan jalan yang memadai. Saat ini sebagian jalan yang akan dilalui masih belum menjadi milik Dinas PUPR, sehingga proses pemasangan tiang listrik tertunda,” ujarnya kepada NOMORSATUKALTIM, Senin, 27 Oktober 2025.
Menurut Bartolomius, rute pemasangan jaringan listrik di Siluq Ngurai cukup menantang karena topografi wilayah yang berbasis sungai. Kecamatan ini terbagi oleh 3 alur sungai, yaitu Sungai Jelau, Sungai Tuang, dan Sungai Kelawit.
“Alur Sungai Kelawit masih jauh dari pusat layanan PLN. Di ujung alur ini terdapat kampung Kendesiq, kemudian dilanjutkan ke Rikong, Muara Ponaq, Kiaq, Tendi, Penawang, dan Lendian Liang Nayuq yang berbatasan dengan Bentian dan IKN. Jarak dan kondisi jalan menjadi tantangan utama,” katanya.
Bartolomius menambahkan, beberapa kampung di dekat Bentian memiliki potensi mendapat jaringan listrik lebih cepat, meski mereka secara administratif berasal dari Siluq Ngurai yang terujung.
BACA JUGA: Kado Istimewa di HUT ke-26 Kutai Timur, Dua Desa Terluar Kini Nikmati Listrik 24 Jam
BACA JUGA: 110 Desa di Kaltim Belum Tersentuh Listrik, Rudy Mas'ud Janji Bantu PLN Tuntaskan Kendala
“Walaupun letaknya jauh, peluang jalur listrik dari alur tersebut bisa lebih cepat terealisasi karena akses jalan lebih memungkinkan. Sementara kampung yang lebih terisolasi masih menunggu koordinasi dan pembangunan jalan,” jelasnya.
Selain faktor jarak dan alur sungai, Bartolomius menyebut perlunya sinergi antara pemerintah daerah, PLN, dan perusahaan yang memiliki jalan yang akan dilewati jaringan listrik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

