Bankaltimtara

Dialog Serantau Borneo Kalimantan, Hidupkan Kembali Semangat Kebudayaan Serumpun Melayu

Dialog Serantau Borneo Kalimantan, Hidupkan Kembali Semangat Kebudayaan Serumpun Melayu

Pembukaan Dialog Serantau Borneo Kalimantan (DSBK) XVI, di Hotel Harris Samarinda, Selasa (18/6/2025).-mayang/disway kaltim-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji membuka Dialog Serantau Borneo Kalimantan (DSBK) XVI tahun 2025, yang dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltim dan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kaltim, di Hotel Harris Samarinda, Selasa 17 Juni 2025 malam.

DSBK XVI 2025 kali ini mengusung tema "Nusantara dan Penguatan Sastra Melayu: Merawat Estetika dan Didaktika" membuat ruang dialog yang menyentuh dasar batin kesenian dan sastrawan.

Wakil gubernur Seno Aji  yang sempat membacakan puisi di hadapan ratusan peserta dan delegasi dari negara sahabat, menyampaikan pendapatnya.

Menurutnya, DSBK yang telah dilaksanakan sejak 1982 itu menjadi kehormatan tersendiri bagi Kaltim, terkhusus Samarinda.

"Ini tentu jadi kebahagiaan karena banyak dari 3 negara yang hadir, Malaysia, Brunei, Indonesia. Ini merupakan kesempatan bagi Kaltim, agar bisa memperkenalkan pembaharuan yang ada. Seperti pembangunan IKN, beberapa infrastruktur yang sudah bagus dan lainnya," ungkap Seno Aji.

Kemudian, pembukaan ditandai dengan pemukulan tambur oleh para tokoh penting yang hadir, antara lain Wakil Gubernur Seno Aji, anggota Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Ketua Dewan kesenian Kaltim Syafril Teha Noer, serta beberapa perwakilan seniman dari Malaysia.

Diakui Seno Aji, ia merasa terhormat bisa menyambut saudara serumpun Melayu dari Borneo, meski berbeda negara.

"DSBK bukan sekadar forum sastra, tetapi merupakan jembatan peradaban yang melintasi batas-batas negara, dan menyatukan kembali warisan leluhur yang telah berabad-abad menjadi roh kehidupan masyarakat di Pulau Kalimantan," jelas Seno.

Apalagi, lanjut Seno Aji DSBK tahun ini mengusung tema “Nusantara dan Penguatan Sastra Melayu: Merawat Estetika dan Didaktika” sangat tepat bagi perkembangan sastra di Indonesia.

Seno Aji meyampaikan bahwa keberadaan sastra tetap harus mengakar pada nilai-nilai luhur, namun juga berani menyapa zaman.

Di tengah derasnya arus digital dan informasi global, sastra memiliki tugas besar untuk tetap menjaga identitas budaya. Juga menanamkan nilai-nilai lokal yang mendidik, dan menyampaikan pesan moral.

Di sinilah pentingnya DSBK kata Seno. Yaitu sebagai ruang temu, ruang bertukar ide, dan ruang menyusun arah pemajuan budaya  bersama di Borneo.

"Ini menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak berhenti pada wacana, tapi juga menyentuh akar budaya masyarakat dan melibatkan interaksi lintas komunitas," tambahnya.

Seno berharap, dari kegiatan ini akan lahir semangat baru, tidak hanya untuk memperkuat sastra tetapi juga untuk memperkuat ikatan persaudaraan dan kerja sama budaya antarnegara serumpun.

"Melalui forum ini, mari kita teguhkan kembali komitmen untuk merawat jati diri budaya kita, menjaga bahasa dan sastra sebagai penopang identitas, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya estetika dan didaktika dalam setiap karya," Kata seno.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: