Apakah Pom Mini Lebih Banyak Manfaat atau Sebaliknya?

Apakah Pom Mini Lebih Banyak Manfaat atau Sebaliknya?

Pom mini di kawasan Jl PM Noor, Samarinda.-Ari Pangalis-nomorsatukaltim.disway.id

Oleh: Devi Alamsyah

BEBERAPA hari lalu saya mengajak diskusi teman-teman di redaksi Disway Kaltim. Kaitannya dengan pom mini, pertamini atau SPBU mini. Atau apalah namanya. Ini terkait dengan semakin ramainya antrean BBM di SPBU di beberapa daerah di Kalimantan Timur. Sepertinya merata.

Ketika saya berangkat ke Berau, akhir November lalu, tak berapa jauh dari Bandara Kalimarau, Tanjung Redeb, sudah terdapat antrean kendaraan yang cukup mengular. Ternyata antrean di SPBU. Bahkan saya sempat berhenti dan foto kondisi tersebut.

Sebelumnya, ketika berangkat dari Bandara APT Pranoto Samarinda, hanya berkisar 2-3 Km sebelum bandara itu pun disuguhkan antrean panjang. Bahkan antreannya di bahu kiri dan kanan jalan. Untung saja jalan arah Samarinda-Bontang itu cukup lebar, sehingga para pengguna jalan lain masih bisa leluasa.  

Untuk di dalam kota Samarinda jangan dikata. Antre BBM sepertinya sudah menjadi pemandangan lumrah. Demikian juga di Balikpapan. Kendati menyandang julukan Kota Minyak, namun tetap saja antre di SPBU.

Antrean BBM pun terjadi bukan hanya untuk jenis Pertalite atau solar yang bersubsidi. Pertamax pun sama. Kadang stoknya yang habis. Pekan lalu saya terpaksa membeli BBM jenis Pertamax itu di pom mini. Yang memang banyak di pinggir jalan. Di pom mini ketika itu, tak ada Pertalite. Hanya ada Pertamax.

Dalam sepekan itu, saya membeli Pertamax di pom mini sebanyak dua kali. Di tempat yang berbeda. Sama-sama tak tersedia Pertalite.

Saya sampai punya rumus sendiri. Kira-kira kapan ya SPBU kosong dari antrean?.

Saya pernah coba pagi sekali. Tapi jangan kepagian, SPBU-nya yang masih tutup. Atau malam sekali. Tapi jangan kemalaman karena SPBU-nya keburu tutup. Atau stoknya habis. Atau kalau di hari Jumat, setelah salat Jumatan, buru-buru datang ke SPBU.

Terkait ini, PT Pertamina Patra Niaga sudah menyampaikan adanya migrasi sejumlah konsumen Pertamax ke Pertalite. Sehingga terjadi antrean panjang di SPBU di Samarinda.

Seperti yang disampaikan Area Manager Comunications Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga, Arya Nusa Dwicandra di Nomorsatukaltim.disway.id. Itu, kata Arya, lantaran ada disparitas harga Rp 4.000/ liter antara Pertalite dan Pertamax. Padahal kuotanya masih sama. Sehari ada 400 kilo liter yang didistribusikan ke 34 SPBU di Samarinda.

Panjang antrean di SPBU itu membawa berkah bagi pom mini. Atau Pertamini. Bagi pengendara yang kepepet kahabisan BBM, tentu pom mini jadi alternatif. Kendati harganya lebih tinggi atau kuotanya berkurang.

Dalam hal ini pom mini bermanfaat. Cukup membantu.

Ketika di Berau itu, saya juga sempat ngobrol santai dengan Agus Tantomo di kediamannya. Agus Tantomo salah satu tokoh masyarakat lokal Berau. Mantan Wakil Bupati Berau.

Ia bilang untuk mengurai antrean di SPBU itu salah satunya dengan memperbanyak SPBU. Supaya konsentrasinya terpecah. Atau dengan memperbanyak pom mini tadi. Karena itu, saat menjabat sebagai pemangku kepentingan Berau, ia punya program memperbanyak pom mini.

Itu di Berau. Mengingat jumlah SPBU sedikit.

Tapi mungkin beda dengan di Samarinda atau Balikpapan. Mengingat Wali Kota Samarinda Andi Harun belum lama ini pernah menyampaikan di media akan menertibkan pom mini. Ini berkaitan dengan aspek keselamatan di mana ada beberapa kasus pom mini terbakar dan tertabrak kendaraan hingga menimbulkan korban meninggal dunia.

Lalu saya meminta pendapat teman-teman di redaksi, yang sehari-hari menggawangi alur berita di Disway Kaltim mapun di Nomorsatukaltim.disway.id. Judul tulisan ini, juga yang saya tanyakan ke mereka.

Hariyadi, seorang redaktur, berpendapat begini:

“Kalau bagi masyarakat kota, keberadaan pom mini gak ada efek. Justru memakan jatah pengendara pribadi. Klaim soal pom mini membantu warga pinggiran menurut saya juga perlu diuji kebenarannya. Berapa persen BBM bersubsidi hasil pengetap yg bener2 didistribusikan ke pinggiran? Nyatanya, saat kita mengantre BBM di SPBU, pom mini tak pernah kehabisan stok BBM bersubsidi”.

“Sepakat,” sahut Bayu Surya, biro Tenggarong, Kukar.

“Karena kebanyakan yg mengantri sekarang adalah pengetap. Bukan pemilik kendaraan pribadi,” tambah Bayu.

Lalu saya tanya lagi di grup WhatsApp itu. Apa harga SPBU dan pom mini ini sama?

“10 rb vs 12 rb klo di bpp. Itupun takarannya g jelas,” kata Hariyadi, menjelaskan kondisi di Balikpapan. Harga Pom mini ini lebih tinggi.

Menurut Bayu, Pom mini resmi Pertamina itu Bernama Pertashop. Sementara yang banyak di pinggir jalan itu apa di bawah naungan langsung Pertamina. Tanda tanya.

“Pertashop gak jual Pertalite, cm Pertamax. Makanya gak populer. Di Lempake ada pak,” sahut Sammi dari Samarinda. Nama Aslinya sih Yulius Samuel Laurens.

“Kalau menurut info Ordal (orang dalam). Tahun 2024, kuota BBM Bersubsidi (Pertalite) tidak ditambah/jumlahnya sama dgn thn 2023. Padahal jumlah kendaraan sampai aktivitas di Kalimantan tiap tahun bakal meningkat”.

Kemudian, rekan saya Zulkiflian Nur juga ikut nimbrung. Ia menjelaskan terkait izin dan pajak. Katanya yang resmi harusnya ada izin niaga umum (INU). Kalau sudah ada INU, baru boleh menjual pertalite dengan harga Rp 12 ribu/ liter.

“Yg mereka lakukan aslinya ilegal, karena menimbun, skrg selain pake motor suzuki thunder ya pake mobil juga, lebih banyak yg ditimbun oleh para pengetab daripada yg beredar di masyarakat yg butuh,” kata Zulkifli.

Pun begitu dengan Yoyok Setiono, pemimpin redaksi Nomorsatukaltim.disway.Id. Menurutnya, untung SPBU sama pertamini jelas lebih besar pertamini. Mereka, katanya, jual suka suka dengan keuntungan bisa Rp 3.000 per liter. Sementara SPBU nggak lebih Rp 700 per liter.

“Kalau mau fair, pertamini ini barang haram mau dilegalkan di Balikpapan,” katanya.

Ramai sekali percakapan pagi itu. Sepertinya pembahasan antrean BBM dan pengentap juga model bisnis pertamini cukup mengundang minat. Karena sehari-hari kita mengalaminya. Mungkin saja ini juga mewakili diskursus masyarakat pada umumnya.

Namun pada momen Natal dan Tahun Baru ini informasinya ketersedian BBM baik subsidi dan non subsidi dipastikan aman. Pertamina memastikan itu. Mari kita lihat apakah akan masih terjadi antrean di SPBU!!

Mudah-mudahan tidak. Kendati ketika itu akan ada pertanyaan susulan. Kenapa mesti di momen tertentu saja. Kenapa tidak setiap saat dipastikan stok BBM aman dan bebas antrean?

Bagaimana dengan Anda?. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: