Relokasi Penduduk

TANJUNG SELOR, DISWAY – Desa-desa yang kerap menjadi langganan banjir tahunan di Bulungan, di antaranya Desa Wonomulyo, Tanjung Agung, dan Sajau Pungit di Kecamatan Tanjung Palas Timur, menurut Bupati Bulungan Ingkong Ala, perlu penanganan jangka.
Salah satu alternatif yang mungkin dilakukan, kata Ingkong, yakni melakukan relokasi penduduk ke wilayah yang lebih tinggi. “Banjir yang hampir setiap tahun terjadi itu, berdampak pada permukiman dan lahan pertanian milik warga,” ujar Ingkong, Minggu (14/2). Namun demikian, untuk relokasi warga, menurutnya, harus pula berdasarkan persetujuan warga setempat. Karena sejauh ini, diakui Ingkong Ala bahwa Pemkab Bulungan belum melakukan pembahasan ke arah relokasi. “Jika masyarakat juga menginginkan, ya itu mungkin saja. Karena relokasi juga harus memikirkan soal lahan dan sebagainya,” katanya. Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Bulungan, Ali Fatokah mengatakan, meluapnya air sungai hingga menyebabkan banjir di sejumlah desa, bukan karena kondisi sungai yang kecil. Namun, juga karena banyak area perkebunan sawit di lokasi tersebut. Ia mengungkapkan, banjir besar pernah terjadi sekitar 1990 silam. Akan tetapi, tidak sesering seperti saat ini. Ali Fatokah juga mengatakan, pihaknya fokus pada pencegahan dan kesiapsiagaan. Upaya pencegahan dilakukan dengan meminimalisasi kebiasaan membuang sampah di sungai. Termasuk imbauan agar tidak menebang pohon secara terus-menerus. “Untuk pembukaan lahan yang dilakukan perusahaan, kami tidak punya wewenang. Tapi memang kami imbau tidak membakar hutan dan lahan. Serta diminta melakukan penanaman pohon kalau sudah melakukan penebangan,” ujarnya. “Memang kami akui adanya pembukaan lahan. Itu juga memengaruhi kondisi hari ini. Termasuk terjadinya banjir,” lanjut Ali Fatokah. Dirinya juga menyebut bila kondisi alam memang tidak bisa diduga, selain memberikan imbauan secara berkala saat Bulungan sedang dilanda cuaca ekstrem. Tetapi perlu ada sinergi bersama untuk melakukan pencegahan. Apalagi, untuk mengatasi persoalan ini perlu biaya dan waktu panjang agar tidak terjadi kembali. “Beberapa daerah itu memang jadi langganan banjir dan melumpuhkan aktivitas warga, serta merusak pertanian. Kita terus berpikir bersama mencarikan solusinya,” ujarnya. *Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: