Mufakat Kanjeng Sinuhun (4): Kebakaran di Desa Titik Jauh

Mufakat Kanjeng Sinuhun (4): Kebakaran di Desa Titik Jauh

Akhirnya ketemu juga lokasi proyek perluasan lahan pertanian. Setelah lama dicari-cari Kaum Hermes. Itu pun secara tidak sengaja pula. Kebakaran hutan membuka tirai itu. Plang penanda lokasi yang awalnya tertutupi rimbunan pohon, kini sudah terlihat jelas. Terang benderang.     

-----------------------------------  

MUFAKAT KANJENG SINUHUN- Pagi yang cerah. Setelah mengantar anak pertamanya sekolah, Henry Natan memilih duduk di teras rumahnya. Ketika matahari baru saja menampakkan diri. Masih hangat. Belum begitu menyengat. Jam menunjukkan pukul 08.30.

Ia menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Duduk lesehan. Memang di teras rumah depannya tak tersedia kursi. Sebelumnya ada kursi sofa panjang. Namun, kain pelapis bagian luarnya sudah pada robek. Ketambah sering ketumpahan berbagai macam air. Lama-lama kondisinya semakin rusak. Dan harus dimuseumkan.     

Akhirnya Henry hanya bisa duduk beralas keramik. Lumayan luas. Panjangnya 4 meter dengan lebar 2,5 meter. Keluarganya sering menghabiskan waktu senggang di teras itu. Dari ujung teras, masih ada 3 meter jaraknya ke pagar rumah. Dulunya tanah. Tapi sekarang sudah dicor. Karena sering becek ketika hujan. Air cipratan tanah mengotori beranda. Itulah yang membuat Lisa—istri Henry, ngedumel. Setiap kali hujan, harus membersihkan lantai.

Kedua anaknya biasa main di halaman rumah itu. Sesekali ada anak tetangga yang juga ikut bermain. Biasanya saat sore hari. Menjelang maghrib. “Bu, bisa dibuatkan kopi kah,” pinta Henry. Volume suranya sedikit ia keraskan.

Tak lama Lisa keluar. Membawa secangkir kopi hitam. “Nih, ada sisa gorengan semalam. Sudah dihangatkan. Masih enak kok,” kata Lisa. Sambil menyodorkan gorengan dalam piring plastik. Henry pun asyik menyantap gorengan sambil melihat-lihat perkembangan berita di-hanphone pintarnya.

Sekitar pukul 09.30. Gawai Henry begetar. Kali ini terus-menerus. Itu bukan telepon. Hanya pesan-pesan yang masuk di dalam grup WhatsApp. Memang sudah diseting demikian. Setiap pesan masuk, gawainya hanya bergetar. Awalnya Henry mengabaikan itu. Ia asyik ngobrol dengan Lisa.

Tapi getaran itu tak berhenti. Penasaran, ada apa ini?!. Ow.. dari grup campuran. Isinya para Hermes, petugas pemangku kota dan beberapa sesepuh bidang. Setelah dibaca-baca, ternyata ada kebakaran hutan di daerah Titik Jauh. Para petugas kebakaran pun sudah meluncur ke lokasi kebakaran itu. Ini bisa jadi kabar menarik.

Setelah dicek, lokasi kebakaran itu masih bisa dijangkau. Dari rumah Henry hanya terpaut 10 kilometer jaraknya. 20 menit bisa sampai tujuan mengendarai sepeda motor. Henry pun pamit dan langsung meluncur ke lokasi yang disebutkan di grup WhatsApp itu.

****

Sesampainya di lokasi yang dituju. Kawasan hutan warga itu sudah habis terbakar. Abu-abu sisa kebakaran masih beterbangan. Asap masih terasa pekat. Henry pun menutup hidungnya dengan slayer. Untung saja di daerah itu masih sepi penduduk. Jarak rumah ke rumah masih jarang.

“Sudah padam?” tanya Henry ketika berjumpa dengan Agus—seorang pemadam kebakaran yang ia kenal. “Hampir. Yang bagian dalam apinya belum padam. Tapi, sebagian besar sudah,” kata Agus.

Agus terlihat sibuk membawa beberapa peralatan. Henry pun mengeluarkan kamera handphone-nya. Mulai memotret suasana hutan yang terbakar. Ia pun mengikuti langkah Agus, menelusuri sisa-sisa hutan yang habis dilahap si jago merah.

Ketika sudah cukup mengambil gambar, ia kembali ke arah jalan. Kini mencari warga yang bisa dimintai keterangan. Yang melihat awal peristiwa itu. Tepat di samping jalan, tak jauh dari motornya yang terparkir, Henry kaget melihat sebuah plang. Bertuliskan; tanah milik pemangku kota. Pada plang itu juga tertulis akan dipergunakan sebagai kawasan perluasan lahan pertanian. Tertanda Bidang Pertanian Pemangku Kota Ulin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: