Ketika Manusia Membela Tuhan
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si----dok. pribadi.
Jika Tuhan Mahakuasa, mengapa why manusia harus menjadi satpam Tuhan dengan batu, kayu, api dan senjata?
Bukankah yang sebenarnya perlu dibela adalah manusia?
Rumah ibadah perlu dijaga karena di dalamnya manusia mencari Tuhan. Orang perlu dilindungi karena ia adalah manusia. Keyakinan perlu dihormati karena ia bersemayam dalam kesadaran manusia.
Al-Qur'an juga mengingatkan manusia bahwa keberagaman bangsa dan suku merupakan bagian dari kehendak Tuhan agar manusia “saling mengenal” (li-ta‘ārafū), sebagaimana QS. Al-Hujurat ayat 13.
Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh suku atau kelompoknya, melainkan oleh ketakwaannya. Kalau demikian, keberagaman bukan kesalahan Tuhan. Yang sering menjadi kesalahan adalah cara manusia membaca keberagaman.
Baca Juga: Hantu Bantal dari Disway Family Constitution Workshop
Dari Nepal kita belajar
Kerusuhan Nepal memberi sebuah pelajaran yang sangat sederhana tetapi mahal: Sebuah masyarakat dapat kehilangan kedamaian bukan karena terlalu banyak agama, tetapi karena terlalu sedikit toleransi.
Masalahnya bukan banyaknya keyakinan. Masalahnya adalah ketika manusia tidak mampu menerima kenyataan bahwa orang lain mempunyai jalan keyakinan yang berbeda.
Karena itu, tragedi Nepal semestinya tidak hanya dilihat sebagai persoalan Hindu versus Muslim. Ia adalah persoalan manusia melawan kesombongan identitas. Ia adalah persoalan masyarakat yang kehilangan nilai bersama.
Ia adalah persoalan ketika simbol agama lebih cepat menyulut emosi daripada nilai agama menumbuhkan kebijaksanaan.
Dan lebih jauh lagi, ia adalah peringatan bagi kita semua: Jangan sampai agama yang seharusnya menjadi jalan menuju Tuhan justru menjadi jalan menuju kebencian kepada sesama manusia.
Bagi Indonesia, Pancasila telah menyediakan rumah bersama.
Al-Qur'an telah memberikan prinsip: Lakum dīnukum wa liya dīn.
Untukmu agamamu, untukku agamaku.
Bukan berarti kita harus hidup tanpa peduli kepada orang lain. Justru sebaliknya.
Kita menghormati orang lain karena kita sadar bahwa kehidupan bersama membutuhkan ruang bagi perbedaan.
Aku boleh yakin bahwa agamaku benar. Tetapi keyakinanku tidak memberiku hak untuk mencabut hak orang lain.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: disway.id
