Bankaltimtara

Ketika Manusia Membela Tuhan

Ketika Manusia Membela Tuhan

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si----dok. pribadi.

Oleh: Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si
(Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta)

ADA sesuatu yang selalu mengkhawatirkan dari sebuah konflik agama: biasanya ia tidak dimulai dengan perang. 

Ia bisa bermula dari sesuatu yang tampak sangat kecil—suara musik yang dianggap terlalu keras, bendera keagamaan yang dipersoalkan, sebuah arak-arakan yang melewati wilayah kelompok lain. 

Tetapi ketika identitas keagamaan sudah dipenuhi kecurigaan, perkara kecil dapat berubah menjadi api besar. 

Itulah yang terjadi dalam kerusuhan komunal di wilayah Tarai-Madhesh dan sekitarnya di Nepal pada akhir Juli 2026. 

Bentrokan bermula di Sunsari setelah perselisihan antara kelompok Hindu dan Muslim terkait pengeras suara dan bendera keagamaan dalam kegiatan keagamaan. 

Kekerasan kemudian menyebar ke sejumlah wilayah lain dan menewaskan sedikitnya tiga orang. Pemerintah memberlakukan jam malam dan mengerahkan aparat keamanan untuk meredam keadaan. 

Baca Juga: Krisis Pelayanan Dasar di Balikpapan: Ketika Air, Jalan, BBM, dan Listrik Menjadi Beban Warga

Yang lebih menyedihkan bukan hanya jumlah korban yang jatuh. Yang patut direnungkan adalah kenyataan bahwa rumah ibadah pun dapat berubah menjadi sasaran kemarahan massa. 

Di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: sesungguhnya apa yang sedang runtuh? 

Apakah hanya ketertiban sosial? Bukan. 

Yang runtuh adalah sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan bahwa manusia lain, meskipun berbeda keyakinan, tetap mempunyai hak untuk hidup, beribadah dan menjalankan keyakinannya tanpa rasa takut. 

Agama yang menjadi alasan untuk membenci. 

Agama pada hakikatnya berbicara tentang hubungan manusia dengan sesuatu yang diyakininya sebagai Yang Mahatinggi. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: disway.id