Bankaltimtara

Ketika Manusia Membela Tuhan

Ketika Manusia Membela Tuhan

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si----dok. pribadi.

Karena itu, agama semestinya membawa manusia keluar dari kesempitan ego menuju kesadaran yang lebih luas tentang kehidupan. 

Baca Juga: Dilema Etika ASN: Antara Loyalitas Pada Atasan Dan Kepatuhan Pada Hukum

Ironisnya, dalam sejarah manusia, agama tidak jarang justru dipakai untuk mempersempit dunia. 

Orang mulai berkata: Agamaku benar, maka engkau harus salah. 

Lalu kalimat itu berkembang menjadi: Karena engkau salah, engkau tidak layak hidup berdampingan denganku. 

Dan dari sana jaraknya hanya tinggal selangkah menuju: Karena engkau berbeda, engkau boleh disingkirkan. 

Di titik itulah agama kehilangan fungsi spiritualnya dan berubah menjadi identitas politik. Yang dibela bukan lagi Tuhan, melainkan ego kelompok. Yang dipertahankan bukan lagi iman, melainkan gengsi identitas. 

Dan yang akhirnya menjadi korban bukan hanya manusia, tetapi juga kesucian agama itu sendiri. 

Sejumlah analisis mengenai kekerasan di Nepal bahkan mengaitkannya dengan meningkatnya ketegangan Hindu-Muslim di kawasan Tarai-Madhesh serta pengaruh politik identitas dari India yang melintasi batas sosial dan geografis. 

Namun kita harus berhati-hati: pengaruh lintas batas mungkin memperbesar ketegangan, tetapi akar persoalannya tetap berada pada bagaimana masyarakat mengelola perbedaan dan bagaimana elite politik, kelompok identitas, serta informasi yang beredar memperlakukan perbedaan tersebut. 

Sebab konflik komunal hampir selalu mempunyai pola yang sama. 

Perbedaan tidak menciptakan kekerasan. Cara manusia memperlakukan perbedaanlah yang menciptakan kekerasan. 

Rapuhnya nilai yang diakui bersama. Sebuah masyarakat tidak cukup hanya mempunyai hukum. Ia membutuhkan nilai bersama. 

Baca Juga: Logika Merdeka Bernegara (4-Terakhir): Manajemen Titik Nol

Hukum dapat mengatakan bahwa setiap orang mempunyai hak beragama. Tetapi hukum saja tidak cukup jika di dalam kepala manusia tumbuh keyakinan bahwa kelompok lain tidak pantas mempunyai hak yang sama. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: disway.id