Ketika Nama Kucing Mengalahkan Korupsi
Ruben Cornelius Siagian, Peneliti Siagian Global Research-istimewa-
Aktivis adalah penjaga akal sehat publik. Jika ada warga berbicara kasar, tegur secara etis. Tetapi jika ada program rakyat diduga dikorupsi, lawan secara struktural. Jangan terbalik, seperti yang kecil dibesar-besarkan, yang besar diperkecil dengan bahasa administratif.
Kasus ini seharusnya menjadi cermin bagi GMKI. Apakah GMKI hendak kembali menjadi gerakan kader yang tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian, atau tergelincir menjadi organisasi yang tinggi akses, tinggi seremoni, tetapi rendah keberanian kritik? Apakah GMKI ingin berdiri dalam tradisi Leimena dan Simatupang, atau cukup puas menjadi bagian dari paduan suara kekuasaan?
Suara kenabian tidak lahir dari kedekatan dengan istana. Ia lahir dari keberanian menyebut ketidakadilan sebagai ketidakadilan. Ia lahir dari kesediaan membela rakyat ketika program atas nama rakyat justru dirusak oleh elite. Ia lahir dari keberanian berkata bahwa korupsi dalam program gizi anak jauh lebih menghina republik daripada lelucon buruk tentang nama kucing.
Tiyo mungkin salah memilih gaya. Tetapi respons yang membesar-besarkan perkara itu justru membuka borok yang lebih serius, yaitu lemahnya daya bedah sebagian elite gerakan terhadap relasi antara kekuasaan, moralitas, dan kebebasan publik.
Ketika nama kucing dianggap ancaman martabat bangsa, sementara dugaan korupsi program triliunan hanya dibahas dalam bahasa evaluatif yang aman, maka yang sedang sakit bukan hanya logika satu-dua orang. Yang sedang sakit adalah orientasi moral gerakan.
BACA JUGA:Realita Literasi Kukar Terungkap, Antara Harapan dan Fakta Pahit
Republik ini tidak membutuhkan aktivis yang alergi pada ejekan terhadap presiden. Republik ini membutuhkan aktivis yang alergi pada korupsi, manipulasi anggaran, pembungkaman kritik, dan penyalahgunaan program rakyat. Presiden tidak perlu disakralkan. Yang perlu dijaga adalah konstitusi, akuntabilitas, dan hak rakyat untuk mengawasi kekuasaan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah nama kucing itu pantas atau tidak. Persoalannya adalah mengapa sebagian orang begitu cepat marah pada simbol, tetapi lambat murka pada korupsi.
Bila gerakan mahasiswa Kristen ingin tetap relevan, ia harus memilih, yaitu apakah menjadi suara kenabian yang menggugat kekuasaan, atau menjadi penjaga etika semu yang sibuk memoles wajah penguasa ketika rakyat sedang menanggung akibat dari kebijakan yang rusak.
Martabat republik tidak runtuh karena presiden diejek. Martabat republik runtuh ketika korupsi dinormalisasi, kritik dibungkam, dan organisasi gerakan kehilangan keberanian untuk berpihak pada kebenaran. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
