Menanti Pendidikan Bermutu di Pinggir Negeri
Suasana belajar mengajar SD Negeri 038 Penajam di ruang perpusatakaan yang disekat.-Awal-Disway Kaltim
Oleh: Fahmi Rahmatan Akbar
Mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
NOMORSATUKALTIM - Pendidikan selalu menjadi sektor yang paling sering dijanjikan dalam agenda pembangunan nasional, tetapi pada saat yang sama juga menjadi bidang yang paling mudah memperlihatkan ketimpangan sosial di Indonesia.
Di kota-kota besar, akses terhadap sekolah layak, perangkat digital, guru berkualitas, hingga koneksi internet merupakan sesuatu yang relatif mudah ditemukan.
Namun di banyak daerah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T) pendidikan masih harus berhadapan dengan persoalan mendasar seperti bangunan sekolah rusak, keterbatasan tenaga pendidik, jauhnya akses menuju sekolah, hingga minimnya fasilitas belajar.
Karena itu, ketika pemerintah melalui Kemendikdasmen mulai menunjukkan fokus yang lebih serius terhadap pembangunan pendidikan di wilayah 3T, hal tersebut patut diapresiasi sebagai langkah penting untuk memperkecil jurang ketimpangan pendidikan nasional.
Meski demikian, capaian yang ada juga harus dibaca secara kritis agar program prioritas pendidikan tidak berhenti sebagai angka statistik yang baik di atas laporan, melainkan benar-benar menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat di akar rumput.
BACA JUGA: Hasil TKA Jeblok karena Literasi Rendah: MBG bukan Solusi!
Salah satu capaian paling menonjol terlihat dari program revitalisasi pendidikan di 62 kabupaten daerah 3T dengan nilai anggaran mencapai lebih dari Rp1,38 triliun pada tahun 2025.
Kebijakan ini memperlihatkan adanya perubahan orientasi pembangunan pendidikan yang sebelumnya terlalu berpusat pada wilayah perkotaan.
Selama bertahun-tahun, banyak sekolah di daerah terpencil terpaksa menjalankan kegiatan belajar mengajar dalam kondisi memprihatinkan.
Atap bocor, ruang kelas rusak, keterbatasan meja kursi, bahkan bangunan yang nyaris roboh merupakan realitas yang masih ditemukan di berbagai wilayah Indonesia timur maupun daerah kepulauan.
Dalam situasi seperti itu, berbicara mengenai kualitas pendidikan tentu menjadi sesuatu yang paradoksal. Sulit membicarakan peningkatan mutu pembelajaran jika kebutuhan paling dasar berupa ruang belajar yang aman saja belum terpenuhi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
