Pernyataan Netanyahu dan Presiden AS Dikecam, Rusia Tunggu Rincian Rencana Trump
Jalur Gaza yang porak poranda usai perang Palestina dengan Israel.-antara-
ISTANBUL, NOMORSATUKALTIM – Persoalan di Jalur Gaza masih menjadi sorotan dunia, khususnya setelah Presiden AS Donald Trump berencana mengambil alih membangun kawasan tersebut.
Diketahui, pada 4 Februari lalu, Trump mengatakan bahwa Washington akan mengambil alih Gaza dan menempatkan warga Palestina di tempat lain.
Bahkan lokasi tersebut dia klaim dapat mengubah daerah tersebut menjadi "Riviera di Timur Tengah."
Usulannya itu mendapat kecaman luas dari Palestina, negara-negara Arab, dan banyak negara lain di seluruh dunia, termasuk Kanada, Prancis, Jerman, dan Inggris.
Dilansir Antara, pihak Rusia menantikan rincian lebih lanjut terkait rencana Trump tersebut.
BACA JUGA: Pernyataan Trump Soal Gaza Gegerkan Dunia, Eropa & Timur Tengah Angkat Suara
BACA JUGA: Trump Makin Gila: Ingin Usir Warga Palestina, Berambisi Ambil Alih Gaza
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mencatat, bahwa ada banyak pertanyaan yang tak terjawab terkait usulan tersebut.
"Kami harus menunggu beberapa rincian jika ini adalah rencana aksi yang konsisten. Ada hampir 1,2 juta warga Palestina tinggal di saja - itu adalah isu utama," kata Peskov dikutip dari Antara, Selasa (11/2/2025).
Rencana Trump juga mendapat penolakan Senator Amerika Serikat Bernie Sanders. Pada Minggu (9/2/2025) Bernie Sanders menegaskan, bahwa wilayah yang porak-poranda akibat perang itu harus dibangun kembali untuk rakyat Palestina, bukan untuk investor kaya.
Di akun X, Sanders menulis, "Lebih dari 47.000 warga Palestina tewas. 111.000 lainnya terluka."
BACA JUGA: Perang Dagang Kian Memanas, AS-China Saling Berbalas Kenaikan Tarif Impor
BACA JUGA: PBB Tolak Rencana Trump Pindahkan Warga Gaza ke Mesir hingga Indonesia
"Respons Trump? Mengusir paksa warga Palestina agar Gaza bisa dijadikan ‘proyek real estate masa depan. Sebidang tanah yang indah.’ Tidak. Gaza harus dibangun kembali untuk rakyat Palestina, bukan untuk turis miliarder."
Di sisi lain, pemimpin otoritas Israel, Benjamin Netanyahu berbicara tentang membangun negara Palestina di Arab Saudi.
Pernyataan yang dinilai provokatif tersebut dikecam oleh Pakistan. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar kepada Menlu Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud dalam pembicaraan pada Senin (10/2/2025), juga menegaskan kembali komitmen Islamabad terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Arab Saudi serta dukungan bagi perjuangan Palestina.
Atas pernyataan itu, Menlu Saudi berterima kasih atas dukungan Pakistan yang konsisten terhadap kesucian dan keutuhan Kerajaan Arab Saudi.
BACA JUGA: Harga Emas Antam Hari Ini Nyaris Tembus Rp1,7 Juta Per Gram, Catat Rekor Tertinggi
BACA JUGA: BGN Tetapkan Rp15.000 per Porsi untuk Program Makan Bergizi Gratis di Kaltim
Dalam pembicaraan via telepon, sebagaaimana dilansir Antara, keduanya juga sepakat untuk segera mengadakan pertemuan luar biasa para menlu Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk membahas perkembangan situasi di Gaza.
Sementara dalam pernyataan terpisah pada Minggu (9/2/2025), Menlu Pakista mengatakan, ”Pakistan sangat yakin bahwa rakyat Palestina memiliki hak yang tidak dapat dicabut untuk mendirikan negara yang merdeka dan berdaulat berdasarkan perbatasan sebelum tahun 1967, dengan Al Quds Al Sharif (Yerusalem timur) sebagai ibu kotanya."
Masih dalam pernyataan Dar, bahwa setiap usulan yang berupaya menggusur atau merelokasi rakyat Palestina dari tanah air leluhur mereka tidak dapat diterima dan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, resolusi PBB, serta prinsip keadilan dan kewajaran.
Sebelumnya, Netanyahu menyebut Saudi dapat mendirikan negara Palestina di wilayahnya. Pernyataan itu dia sampaikan ketika menanggapi syarat yang diajukan Saudi terkait normalisasi hubungan dengan Israel.
BACA JUGA: Kebobolan 3 Gol di Depan Asisten Patrick Kluivert, Nadeo Tetap Optimis Dipanggil Timnas Indonesia
Sedangkan Presiden AS Donald Trump mengatakan, Washington akan “mengambil alih” Gaza dan “memukimkan” kembali warga Palestina di Mesir dan Yordania.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

