Saenuddin, Perantau Sulawesi yang Sukses Budidayakan Kakao di Berau
Keterangan foto : Saenuddin, Petani Kakao di Rantau Panjang, Kabupaten Berau. -azwini/disway kaltim-
Satu bibit dijual seharga Rp 20 ribu. Dalam satu musim, permintaan bisa mencapai ribuan.
Pembelinya tak hanya datang dari sekitar Berau, tapi juga dari Samarinda hingga Kalimantan Utara.
Baginya, bertani kakao bukan hanya soal penghasilan, tapi tentang ketekunan.
Ia percaya bahwa kakao adalah komoditas yang adil bisa dikelola siapa pun tanpa perlu tenaga besar atau alat berat.
"Kakao bisa dikerjakan siapa saja. Orang tua, anak-anak bisa bantu panen. Yang penting dirawat. Kalau serius, dua hektare kakao bisa kalahkan empat hektare sawit," tegasnya.
Ketekunan Saenuddin telah mengubah hidupnya. Dari sekadar mencoba, ia kini menjadi panutan bagi warga sekitar yang ingin menekuni usaha serupa.
Banyak yang datang untuk belajar, meski tidak semuanya langsung yakin. Saenuddin memaklumi. Ia tahu bahwa hasil nyata lebih meyakinkan daripada banyak janji.
Di tengah geliat industri tambang yang sewaktu-waktu bisa meredup, Saenuddin melihat harapan dari tanah yang ia rawat sendiri.
Baginya, kakao bukan sekadar tanaman, tapi jalan hidup yang bisa diperbarui dan diwariskan.
"Saya harap masyarakat mau ikut menanam. Kakao ini menjanjikan, asal dirawat. Setengah hektare saja bisa cukup, kalau dikelola betul-betul."
"Tambang itu kan bisa habis, tapi kakao ini bisa terus diperbarui," pungkasnya. (Maulidia Azwini).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

