Suster Maria dan Jembatan Maryati: Misteri yang Menjadi Warisan Masa Kecil Balikpapan
Seorang warga melintas di Jembatan Maryati, di kawasan Gunung Sari, tepatnya di Jl. Bunga Matahari, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, Sabtu (23/8/2025). Legenda urban yang masih ada sampai saat ini..-Salsabila-nomorsatukaltim.disway.id
BACA JUGA: Mufakat Kanjeng Sinuhun (3): Munculnya Dua Nama
Kini, rumah tempat pembantaian itu dikenal sebagai Rumah Pembantaian, sementara jembatan gantung menjadi salah satu tempat paling angker di Balikpapan. Sejak kematiannya, Suster Maria dipercaya sering menampakkan diri di lokasi tersebut, seakan menolak meninggalkan dunia yang begitu tragis.
Baginya, legenda tersebut bukan hanya menakutkan, tapi juga menjadi hiburan dan sarana interaksi sosial. Anak-anak berkumpul, berbagi cerita, dan menantang adrenalin dengan uji nyali di berbagai lokasi.
"Kalau tidak pernah mencoba uji nyali di Gunung Kemendur atau jalan minyak dari Pelabuhan hingga Karanganyar, rasanya belum lengkap sebagai anak Balikpapan," ungkap Huda, sapaan akrabnya.
Selain Suster Maria, legenda Jembatan Maryati juga masih lekat di ingatan warga Balikpapan. Al Geseki, pemuda kelahiran Pandansari, menceritakan bahwa kisah Maryati bermula dari tragedi yang menimpa keluarganya.
BACA JUGA: Mufakat Kanjeng Sinuhun (4): Kebakaran di Desa Titik Jauh
Maryati hidup bersama keluarga dengan dua atau tiga anak. Hingga suatu konflik keluarga membuatnya bunuh diri, tepatnya di lokasi yang kini dikenal sebagai Jembatan Maryati. Rumahnya, menurut Al, berada di dekat sebuah salon yang bersebelahan dengan jembatan tersebut.
"Dulu, cerita ini banyak diceritakan secara turun-temurun oleh warga. Waktu kecil, kami sering mendengar kisah itu dari teman-teman atau tetangga. Lambat laun, cerita itu berkembang dan muncullah sosok Maryati," jelasnya.
Kisah Maryati, meski lebih pendek, tetap menyisakan aura horor yang kuat. Sosok perempuan berbaju putih dikabarkan muncul di sekitar jembatan, menimbulkan rasa takut bagi mereka yang melewatinya, terutama saat malam hari.
Di era sekarang, cerita-cerita itu mulai terlupakan. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan permainan digital.
BACA JUGA: Mufakat Kanjeng Sinuhun (5): Perempuan Misterius
Namun bagi mereka yang lahir sebelum zama modern, kisah Suster Maria dan Jembatan Maryati tetap hidup di memori, mengingatkan akan masa kecil yang penuh imajinasi, rasa takut, dan kehangatan interaksi sosial.
Ia mengungkapkan, sisi positif dari cerita horor ini juga terasa dalam kehidupan sehari-hari.
"Orang-orang bisa belajar dari kisah ini, melihat contoh dan peringatan. Dalam rumah tangganya mungkin hanya menjadi cerita ringan, tapi tetap ada nilai-nilai yang bisa diambil. Jangan sampai ini loh, ada contohnya, ini lah maksudnya," pungkas pria kelahiran 1993 itu. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

